Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

28 February 2007

H

بسم الله الرحمن الرحيم وما يعلم جنود ربك إلا هو

"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31)
Dari sekian banyak rakhmat Allah, hujan merupakan salah satunya. Siti 'Aisyah ra berkata: "Jika baginda Rasululah saw. melihat hujan, baginda akan berkata: Itu adalah rahmat.” Namun mengapa dari rakhmat berbentuk hujan itu kemudian berubah menjadi musibah banjir yang sampai saat ini masih berlangsung di Jakarta dan wilayah Indonesia lainnya dan diprediksi akan berlangsung lama.

Saat ini, saya sendiri dan semua warga yang terkena musibah masih merasakan dampak pisik dan psikologis dari musibah yang menimpa kita dan masih akan ada kemungkinan terkena musibah susulan dari dampak kebanjiran. Ternyata kita sebagai manusia tak bisa berkutik menghadapi tentara Allah berupa air hujan. Tak berbuat apa-apa selain menerima ujian ini dengan kesabaran.

Tentara AllahSebelumnya, musibah-musibah itu bak antrian panjang di bumi persada ini. Dari musibah yang terjadi beruntun ini paling tidak ada empat pemicunya. Mulai dari Air laut dan air hujan, ia bisa menjadi tsunami atau banjir bah jika berasal dari hujan. Kadang air itu meluap/menyembur ke permukaan bumi dan bercampur dengan lumpur atau api seperti di Porong, Sidoardjo dan Gunung Berapi di Yogyakarta. Kedua, Angin yang menerjang pesawat terbang hingga jatuh, angin puyuh, angin puting beliung, atau tornado yang bisa meluluhlantakkan rumah penduduk. Ketiga, Api yang membakar segala prasarana seperti pasar dan rumah. Keempat, Hama baik berupa virus flu burung (H5N1) atau nyamuk demam berdarah yang mematikan serta virus lain seperti HIV dan hama-hama lain yang menyerang tanaman dan penyakit.

Dalam buku-buku ulama salaf dikatakan bahwa keempat macam jenis pemicu musibah ini masuk dalam kategori tentara Allah yang kelihatan. Sebenarnya ada juga tentara Allah yang tidak tampak seperti "musawwimin" malaikat yang diturunkan Allah membela perang badar dan perang khandak.

Naskah (ayat) dalam Al Qur'an jelas menyebut bahwa Allah memiliki tentara yang memenuhi langit dan bumi. (Alfath: 7) Ketika perang Khandak, Allah pun menurunkan tentara berupa angin topan dan tentara yang tidak keliahatan yaitu malaikat. (Al Ahzab: 9) Tidak ada yang mengetahui tentara Allah melain¬kan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31). Angin juga merupakan tentara sebagaimana Rasul saw bersabda: "Aku ditolong oleh angin timur sedangkan kaum Ad dihancurkan oleh angin barat." (tafsir al Qurthubi)

روي سعيد بن جابر عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نصرت بالصبا واهلكت عاد بالدَّبور

Air Hujan sebagai Sumber RezekiBermula dari rezeki namun berakhir petaka. Hal ini terjadi karena awalnya, Allah subhanahu wata'ala mengirim rezeki manusia salah satunya didatangkan dari tumbuh-tumbuh¬an. Ia bisa tumbuh dan berkembang di bumi karena air hujan. Planet lain tidak bertumbuh karena konon air tidak tersedia. Kujadikan air hujan itu diturunkan dari langit dan menjadikan buah-buahan sebagai rezekimu (Al Baqarah 22). Bumi yang gersangpun dengan dituruni hujan jadi subur (Al Baqarah 164). Allah mengeluarkan rezeki dari langit dan dari dalam bumi untuk manusia (An Naml 64, Faatir 3, Al Mu'min 13, Jatsiah 5).

Karenanya telah jelas sekali bahwa Allah menurunkan rezeki dari langit dan bumi otomatis semuanya rahmat. Lalu darimana sisi rakhmatnya. Awalnya rezeki kok terjadi musibah banjir di mana-mana.

Salah Menggunakan RezekiRezeki yang begitu berlimpah dari air hujan menjadikan manusia kaya raya dan memiliki banyak uang. Namun karena salah menggunakan rezeki akhirnya berubah petaka. Misalnya, mengapa rezeki itu digunakan untuk maksiat; untuk membuat kerusakan (Al Baqarah 60); rezekinya tidak disyukuri (Ibrahim 7, Saba 15); untuk berfoya-foya; tidak ditasarufkan (disalurkan) kepada yang berhak (Mujadilah 13). Dan masih banyak ayat dan Hadits yang intinya memberi arahan agar jangan salah dalam menggunakan rezeki sebagai rakhmat Allah swt.

Akibat dari pengingkaran terhadap rakhmat Allah, maka jangan heran ketika tentara Allah yang juga rakhmat menjadi mengamuk kepada manusia. Sebab tentara berupa air ini sudah disalahgunakan oleh manusia. Tentara lain seperti angin, api dan hama tentu akan mengamuk pula. Sebab ketiga tentara tersebut semuanya mendukung rakhmat Allah swt terhadap segala kenikmatan bagi manusia.

Air sebagai sumber kehidupan. Angin sebagai medium untuk membuat tumbuhan jadi berbuah dengan perantaraan putik sari pada bunga akan terjadi pekawinan dan menghasilkan buah-buahan dan biji-bijian. Hama dan hewan terbang lainnya, merupakan medium untuk mengantarkan kesuburan bagi tanaman dan bisa menghasilkan buah. Api sebagai tentara Allah swt bertugas untuk menjadikan rezeki berupa buah-buahan bisa dimatang¬kan dan sehingga bisa dinikmati oleh segenap manusia. Dengan api manusia bisa memperoleh buah yang bisa dimatangkan melalui kehangatannya. Api dalam listrik dan api dalam suhu udara merupakan akvitas yang nyata bagi kehangatan dan keramaian bumi.

Namun karena kesalahan manusia maka akhirnya tentara-tentara itu terindikasi mengamuk dan memperlihatkan powernya. Kini manusia hanya menerima kedahsyatan musibah tersebut. Bagi yang beriman memandang musibah sebagia cobaan dan bagi yang kufur akan mengumpat serta mengeluh dan berharap kasihan dari orang lain.

Musibahpun Menimpa Orang BerimanJika tentara Allah swt telah menunjukkan powernya, maka bumi terkesan rusak. Dampak dari musibah ini tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat maksiat namun juga berdampak kepada orang-orang yang beriman. Peringatan ini sudah cukup jelas dalam ayat Al qur'an.

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب (الأنفال 25

Artinya: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal: 25).

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ *

"Ya Rasulullah apakah kami akan terkena dampak fitnah musibah sedangkan kami orang-orang sholeh? Dijawab oleh Nabi: "Benar apabila ditemui banyak kemaksiatan".
Imam Al Qurthubi berkata: "Menurut ulama kami, jika fitnah telah beraksi maka rusak semuanya."
إذا انزل الله بقوم عذابا اصاب العذاب من كان فيهم ثم بعثوا على أعمالهم

"Jika Allah turunkan adzab, maka ia akan menimpa siapa saja kemudian Allah membangkitkan mereka berdasakan amal perbuatannya." Menurut penjelasanya, hadits ini menunjukkan bahwa kerusakan akan menimpa secara umum; bagi orang sholeh, tholih (rusak) dan orang dhlim. Namun ia merupakan pembersih bagi orang mukmin/shalih (tuhrotan lilmu'minin) dan merupakan balasan (nuqmatan) bagi orang fasiq.


Karena itu mari semuanya dikembalikan kepada Allah: Innalilahi wainna ilaihi raji'uun. Sesunggunya semuanya berasal dari Allah dan hendaklah dikembalikan kepada-Nya. Alam ini milik-Nya seyogyanya, mari kita rawat bumi dan segala isinya untuk rakhmatan lil 'alamin. Jangan sampai memancing tentara Allah menjadi marah.

Wallahu 'alam.

Sumber:
Al Qur'an Depag RI, Tafsir Jalalen, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Kutubussittah, Al Bayan Hadits Shoheh.

Catatn Penulis: Diizinkan mengutip, menyadur, menyalin, menyebar luaskan tulisan ini untuk tujuan apapun. Namun mohon dikoreksi terlebih dahulu, dengan teliti sebab bisa jadi terdapat banyak kesalahan: salah tulis, salah kutip, salah kesimpulan, salah menyadur juga bisa jadi banyak perbedaan pendapat karena keterbatasan pengetahuan penulis.

Antri Musibah | Tentara Allah sedang Marahkah?

بسم الله الرحمن الرحيم وما يعلم جنود ربك إلا هو

"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31)
Dari sekian banyak rakhmat Allah, hujan merupakan salah satunya. Siti 'Aisyah ra berkata: "Jika baginda Rasululah saw. melihat hujan, baginda akan berkata: Itu adalah rahmat.” Namun mengapa dari rakhmat berbentuk hujan itu kemudian berubah menjadi musibah banjir yang sampai saat ini masih berlangsung di Jakarta dan wilayah Indonesia lainnya dan diprediksi akan berlangsung lama.

Saat ini, saya sendiri dan semua warga yang terkena musibah masih merasakan dampak pisik dan psikologis dari musibah yang menimpa kita dan masih akan ada kemungkinan terkena musibah susulan dari dampak kebanjiran. Ternyata kita sebagai manusia tak bisa berkutik menghadapi tentara Allah berupa air hujan. Tak berbuat apa-apa selain menerima ujian ini dengan kesabaran.

Tentara AllahSebelumnya, musibah-musibah itu bak antrian panjang di bumi persada ini. Dari musibah yang terjadi beruntun ini paling tidak ada empat pemicunya. Mulai dari Air laut dan air hujan, ia bisa menjadi tsunami atau banjir bah jika berasal dari hujan. Kadang air itu meluap/menyembur ke permukaan bumi dan bercampur dengan lumpur atau api seperti di Porong, Sidoardjo dan Gunung Berapi di Yogyakarta. Kedua, Angin yang menerjang pesawat terbang hingga jatuh, angin puyuh, angin puting beliung, atau tornado yang bisa meluluhlantakkan rumah penduduk. Ketiga, Api yang membakar segala prasarana seperti pasar dan rumah. Keempat, Hama baik berupa virus flu burung (H5N1) atau nyamuk demam berdarah yang mematikan serta virus lain seperti HIV dan hama-hama lain yang menyerang tanaman dan penyakit.

Dalam buku-buku ulama salaf dikatakan bahwa keempat macam jenis pemicu musibah ini masuk dalam kategori tentara Allah yang kelihatan. Sebenarnya ada juga tentara Allah yang tidak tampak seperti "musawwimin" malaikat yang diturunkan Allah membela perang badar dan perang khandak.

Naskah (ayat) dalam Al Qur'an jelas menyebut bahwa Allah memiliki tentara yang memenuhi langit dan bumi. (Alfath: 7) Ketika perang Khandak, Allah pun menurunkan tentara berupa angin topan dan tentara yang tidak keliahatan yaitu malaikat. (Al Ahzab: 9) Tidak ada yang mengetahui tentara Allah melain¬kan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31). Angin juga merupakan tentara sebagaimana Rasul saw bersabda: "Aku ditolong oleh angin timur sedangkan kaum Ad dihancurkan oleh angin barat." (tafsir al Qurthubi)

روي سعيد بن جابر عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نصرت بالصبا واهلكت عاد بالدَّبور

Air Hujan sebagai Sumber RezekiBermula dari rezeki namun berakhir petaka. Hal ini terjadi karena awalnya, Allah subhanahu wata'ala mengirim rezeki manusia salah satunya didatangkan dari tumbuh-tumbuh¬an. Ia bisa tumbuh dan berkembang di bumi karena air hujan. Planet lain tidak bertumbuh karena konon air tidak tersedia. Kujadikan air hujan itu diturunkan dari langit dan menjadikan buah-buahan sebagai rezekimu (Al Baqarah 22). Bumi yang gersangpun dengan dituruni hujan jadi subur (Al Baqarah 164). Allah mengeluarkan rezeki dari langit dan dari dalam bumi untuk manusia (An Naml 64, Faatir 3, Al Mu'min 13, Jatsiah 5).

Karenanya telah jelas sekali bahwa Allah menurunkan rezeki dari langit dan bumi otomatis semuanya rahmat. Lalu darimana sisi rakhmatnya. Awalnya rezeki kok terjadi musibah banjir di mana-mana.

Salah Menggunakan RezekiRezeki yang begitu berlimpah dari air hujan menjadikan manusia kaya raya dan memiliki banyak uang. Namun karena salah menggunakan rezeki akhirnya berubah petaka. Misalnya, mengapa rezeki itu digunakan untuk maksiat; untuk membuat kerusakan (Al Baqarah 60); rezekinya tidak disyukuri (Ibrahim 7, Saba 15); untuk berfoya-foya; tidak ditasarufkan (disalurkan) kepada yang berhak (Mujadilah 13). Dan masih banyak ayat dan Hadits yang intinya memberi arahan agar jangan salah dalam menggunakan rezeki sebagai rakhmat Allah swt.

Akibat dari pengingkaran terhadap rakhmat Allah, maka jangan heran ketika tentara Allah yang juga rakhmat menjadi mengamuk kepada manusia. Sebab tentara berupa air ini sudah disalahgunakan oleh manusia. Tentara lain seperti angin, api dan hama tentu akan mengamuk pula. Sebab ketiga tentara tersebut semuanya mendukung rakhmat Allah swt terhadap segala kenikmatan bagi manusia.

Air sebagai sumber kehidupan. Angin sebagai medium untuk membuat tumbuhan jadi berbuah dengan perantaraan putik sari pada bunga akan terjadi pekawinan dan menghasilkan buah-buahan dan biji-bijian. Hama dan hewan terbang lainnya, merupakan medium untuk mengantarkan kesuburan bagi tanaman dan bisa menghasilkan buah. Api sebagai tentara Allah swt bertugas untuk menjadikan rezeki berupa buah-buahan bisa dimatang¬kan dan sehingga bisa dinikmati oleh segenap manusia. Dengan api manusia bisa memperoleh buah yang bisa dimatangkan melalui kehangatannya. Api dalam listrik dan api dalam suhu udara merupakan akvitas yang nyata bagi kehangatan dan keramaian bumi.

Namun karena kesalahan manusia maka akhirnya tentara-tentara itu terindikasi mengamuk dan memperlihatkan powernya. Kini manusia hanya menerima kedahsyatan musibah tersebut. Bagi yang beriman memandang musibah sebagia cobaan dan bagi yang kufur akan mengumpat serta mengeluh dan berharap kasihan dari orang lain.

Musibahpun Menimpa Orang BerimanJika tentara Allah swt telah menunjukkan powernya, maka bumi terkesan rusak. Dampak dari musibah ini tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat maksiat namun juga berdampak kepada orang-orang yang beriman. Peringatan ini sudah cukup jelas dalam ayat Al qur'an.

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب (الأنفال 25

Artinya: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal: 25).

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ *

"Ya Rasulullah apakah kami akan terkena dampak fitnah musibah sedangkan kami orang-orang sholeh? Dijawab oleh Nabi: "Benar apabila ditemui banyak kemaksiatan".
Imam Al Qurthubi berkata: "Menurut ulama kami, jika fitnah telah beraksi maka rusak semuanya."
إذا انزل الله بقوم عذابا اصاب العذاب من كان فيهم ثم بعثوا على أعمالهم

"Jika Allah turunkan adzab, maka ia akan menimpa siapa saja kemudian Allah membangkitkan mereka berdasakan amal perbuatannya." Menurut penjelasanya, hadits ini menunjukkan bahwa kerusakan akan menimpa secara umum; bagi orang sholeh, tholih (rusak) dan orang dhlim. Namun ia merupakan pembersih bagi orang mukmin/shalih (tuhrotan lilmu'minin) dan merupakan balasan (nuqmatan) bagi orang fasiq.


Karena itu mari semuanya dikembalikan kepada Allah: Innalilahi wainna ilaihi raji'uun. Sesunggunya semuanya berasal dari Allah dan hendaklah dikembalikan kepada-Nya. Alam ini milik-Nya seyogyanya, mari kita rawat bumi dan segala isinya untuk rakhmatan lil 'alamin. Jangan sampai memancing tentara Allah menjadi marah.

Wallahu 'alam.

Sumber:
Al Qur'an Depag RI, Tafsir Jalalen, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Kutubussittah, Al Bayan Hadits Shoheh.

Catatn Penulis: Diizinkan mengutip, menyadur, menyalin, menyebar luaskan tulisan ini untuk tujuan apapun. Namun mohon dikoreksi terlebih dahulu, dengan teliti sebab bisa jadi terdapat banyak kesalahan: salah tulis, salah kutip, salah kesimpulan, salah menyadur juga bisa jadi banyak perbedaan pendapat karena keterbatasan pengetahuan penulis.

15 January 2007

Buku Tentang Kebudayaan Cirebon Beredar di Australia

Saya menemukan buku yang berbicara tentang Buntet Pesantren Cirebon lengkap dengan sejarah dan silsilah tarekatnya. Ditambah juga buku ini berbicara tentang budaya Islam yang dianut kebanyakan warga Cirebon pada umumnya dan tentang kasus Pondok Pesantren Buntet pada khsusunya.

Kalau di lihat dari kulit sampul dalamnya terdatang tulisan sebagai berikut:

Published by ANU E Press
The Australian National University
Canberra ACT 0200, Australia
Email: anuepress@anu.edu.au
Web: http://epress.anu.edu.au
National Library of Australia
Cataloguing-in-Publication entry
Muhaimin, Abdul Ghoffir.
The Islamic traditions of Cirebon : ibadat and adat among
Javanese muslims.

Saya sendiri orang cirebon tidakmengenal AG. Muhaimin pengarang buku ini. Rupanya beliau adalah orang Cirebon yang bukunya diterbitkan oleh Canberra University, Australia. Tapi AG. Muhaimin kalau tidak salah beliau pengarang dari buku biographi KH. Abbas. Kalau beliau memang memliki kedekatan dengan kyai Buntet Pesantren.

Buku ini sangat bermanfaat untuk dijadikan bahan website dalam bahasa Inggris di proyek buntetpesantren.com.

Alhamdulillah selagi Pak Dhabas Rakhmat masih membiayai hosting server, web ini masih tetap bisa mengudara. namun kalau pak Dhabas sudah menghentikannya maka terpaksa harus cari donatur lain.

Mengimani Para Nabi Perlukah dilogikakan?

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ini mengikuti pengajian Tafsir Jalalain di Musholla tempatku tinggal. Pengajian ini rutin namun baru beberapa kali saya ikuti karena kesibukan kerja yang biasanya pulang hingga malam [biasa setelah jam kerja explor di IE]. Tapi alhamdulillah saya mendapatkan hikmah dari pengajian ini. Dalam kajian malam ini sang Ustadz membahas tafsir Yasin kebetulan pada giliran Surat Maryam (bukan Maria Eva) membicarakan kelahiran nabi Yahya putra dari Nabi Zakaria.

Dari ayat yang tercantum seperti kutipan al quran ayat 1-15, Ternyata kelahiran seorang Nabi Yahya sulit dilogikakan. Bagaimana Nabi Yahya as bisa lahir dari ayahnya bernama Nabi Zakaria as yang usianya 125 tahun sementara isterinya 85 tahun. Nabi Zakariapun tidak mempercayai ketika ia dikabari oleh Tuhan akan dikaruniai seorang anak. Beliau berkata dalam al qur’an ayat -5:


Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. (S. Maryam, 08)

Namun Tuhan menjawab:

Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. (S. Maryam, 9)

Dari jawaban itu maka logika tidak bisa bermain karena Allah berfirman: “hal itu adalah mudah bagi-Ku”. Dari ungkapan inilah maka keimanan sungguh sulit dilogikakan. Disinilah keimanan diuji.


Sebenarnya bukan nabi Zakaria saja yang asal kelahiranya tidak sama dengan manusia lainnya. Sebut saja misalnya Nabi Isa as (Yesus Kristus dalam agama kristen). Beliau lahir tanpa Bapak, demikian pula Nabi Adam.

Karenanya, keimanan bisa menetap dalam hati, alamnya unilmit luasnya dari dunia hingga akhirat. Sementara logika bermain pada tataran terbatas dengan alam yang terbatas pula (dunia), sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “antum a’lamu biumuri dunyakum” you are more known then me about the world’s problem”. Jadi gurunya keimanan adalah para Nabi sedangkan logika bebas sebebas-bebasnya meskipun tidak mengikuti nabi sekalipun…
Wallahu a’alam


Bagaimaan menurut para pembaca…. Mohon diskusinya.


  • Kisah Zakaria dalam Al Qur’an
    Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad
    (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,
    yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
    Ia berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.
    Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
    yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai”.
    Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.


Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ini mengikuti pengajian Tafsir Jalalain di Musholla tempatku tinggal. Pengajian ini rutin namun baru beberapa kali saya ikuti karena kesibukan kerja yang biasanya pulang hingga malam [biasa setelah jam kerja explor di IE]. Tapi alhamdulillah saya mendapatkan hikmah dari pengajian ini. Dalam kajian malam ini sang Ustadz membahas tafsir Yasin kebetulan pada giliran Surat Maryam (bukan Maria Eva) membicarakan kelahiran nabi Yahya putra dari Nabi Zakaria.

Dari ayat yang tercantum seperti kutipan al quran ayat 1-15, Ternyata kelahiran seorang Nabi Yahya sulit dilogikakan. Bagaimana Nabi Yahya as bisa lahir dari ayahnya bernama Nabi Zakaria as yang usianya 125 tahun sementara isterinya 85 tahun. Nabi Zakariapun tidak mempercayai ketika ia dikabari oleh Tuhan akan dikaruniai seorang anak. Beliau berkata dalam al qur’an ayat -5:


Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. (S. Maryam, 08)

Namun Tuhan menjawab:

Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. (S. Maryam, 9)

Dari jawaban itu maka logika tidak bisa bermain karena Allah berfirman: “hal itu adalah mudah bagi-Ku”. Dari ungkapan inilah maka keimanan sungguh sulit dilogikakan. Disinilah keimanan diuji.


Ø Sebenarnya bukan nabi Zakaria saja yang asal kelahiranya tidak sama dengan manusia lainnya. Sebut saja misalnya Nabi Isa as (Yesus Kristus dalam agama kristen). Beliau lahir tanpa Bapak, demikian pula Nabi Adam.

Ø Karenanya, keimanan bisa menetap dalam hati, alamnya unilmit luasnya dari dunia hingga akhirat. Sementara logika bermain pada tataran terbatas dengan alam yang terbatas pula (dunia), sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “antum a’lamu biumuri dunyakum” you are more known then me about the world’s problem”. Jadi gurunya keimanan adalah para Nabi sedangkan logika bebas sebebas-bebasnya meskipun tidak mengikuti nabi sekalipun…
Wallahu a’alam


Bagaimaan menurut para pembaca…. Mohon diskusinya.


  • Kisah Zakaria dalam Al Qur’an
    Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad
    (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,
    yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
    Ia berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.
    Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
    yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai”.
    Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

  • Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
    Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
    Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.