Membaca judul tulisan "Pergaulan dengan Non Islam" di sini, terkesan adanya semacam “ketidaktahuan pesantren” terhadap ayat-ayat yang berhubungan dengan pergaulan antar agama. Padahal kalau boleh jujur, justru pesantren bukan saja yang mengkampanyekan ayat-ayat tersebut malah mempraktekkanya dalam kehidupan sehari-hari. Mau bukti...?
Sebelumnya penulis artikel itu, Pak Latif bertutur: “Inilah kumpulan2 ayat2 ALLAH yang saya temukan di al Quran, semoga para pembaca budiman dapat mengambil manfaatnya dan dapat mengaplikasikan peraturan2 ALLAH ini dalam kehidupan sehari hari. Ayat2 dibawah kemungkinan sekali para pembaca tidak pernah mendengarnya di mesdjid2 dan di pengajian2. Jadi banyak sekali umat islam yang tidak tahu akan perintah2 ALLAH yang penting ini.”
Dari ayat-ayat yang saya baca, setidaknya saya ingin menyoroti kepada dua hal saja:
1. Ada anggapan bahwa ayat-ayat yang diungkapkan oleh beliau agar kita bersama-sama berteman dengan orang-orang berlainan agama merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari. “dari ayat yang Allah Subhanahu Wata'ala menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal”.
2. Agama selain Islam yang masuk dalam kategori agama langit hendaknya diterima sebagai agama juga yang sah dan bisa dijadikan sebagai komponen masyarakat Indonesia dan dijadikan sebagai bagian dari komponen masayarakat Indonesia.
Dan masih banyak lagi ide-ide yang lain namun saya hanya ingin menyorotin dua hal tersebut.
Toleransi itu dalam IslamBahwa tidak tenarnya ayat-ayat tentang kenyataan ada agama lain selain Islam dianggap tidak tenar dan jarang ditemui (ditulis dengan huruf kapital), seolah-olah menganggap bahwa di pesantren-pesantren atau komunitas pengajaran agama yang kami dapatkan tidak diajarkan. Menurut saya ini merupakan kesimpulan yang salah kaprah. Seakan-akan kami memusuhi umat agama lain dan menjadi rival. Di sisi lain terkesan menganggap para kyai dan guru-guru agama sangat tidak paham dengan ayat-ayat itu.
Menurut saya pesantren tidak pernah menganggap adanya agama lain selain Islam sebagai “musuh” malahan merupakan sebuah sinergi terhadap agama Islam itu sendiri. Islam datang sebagai agama yang rakhmatan lil’alamin adalah bukti kongkrit bahwa agama ini sangat mengajarkan toleransi. Sementara agama lain yang dalam kasus politik di Amerika sangat kentara kurang bisa memberikan wahana toleransi. Sebagai contoh kasus kecil, di Parlemen Amerika, Keith Ellison salah satu anggota perlemen dari Minosetta yang kebetulan beragama Islam terkena diskriminasi agama. Dalam prosesi sumpah, beliau merasa kesulitan karena undang-undang di sana masih diharuskan beragama Kristen dan disumpah dengan kitab Injil. Ketika hal ini diperdebatkan, akhirnya majlis memutuskan boleh disumpah dengan Al Qur’an tapi qur’an yang dipakai adalah khsusus koleksi dari perpustakaan Thomas Jefferson, saja bukan qur’an yang lain. Ini bagaimana? Menurut Syu’bah Asa, mantan editor senior di Tempo mengatakan bahwa itulah sebabnya mengatapa toleransi itu adanya dalam Islam.
Kyai Buntet Juru Damai Konflik AgamaBuntet dalam bergaul dengan agama lain sangat tidak abai dalam persoalan ini. Dari cerita di bawah ini bagaimaan Buntet bisa membuktikan mampu bergaul dengan agama lain bukan saja dalam wacana melainkan praktek nyata dan membawa dampak semangat “rakhmatan lil a’alim”.
Adalah KH. Cecep Khowas, pimpinan asrama Al Muttaba’ beliau pernah diundang di salah satu daerah di Timor Tengah bagian terdekat dengan perbatasan Atambua Timor Timur. Dulu ketika masih integrasi dengan Indonesia, kang Cecep setengah dipaksa untuk bisa memediatori konflik agama di sana. Antara Protestan dan Katolik.
Maka berceritalah kang Cecep kepada dalam sebuah obrolan hangat bersandingkan teh hangat di terang depan asramanya.
Menututnya, saat itu saya disuruh untuk bisa mempertemukan dan mendamaikan dua kubu yang saling berseteru dan sudah turun-temurun. Tantangan ini sangat berbahaya sebab saya tidak memahami betul kultur disana. Lalu dengan ide saya, akhirnya mereka dikumpulkan di dalam suatu kesempatan dalam peringatan Maulid Nabi besar Muhammad saw di daerah yang banyak komunitas Islamnya. Di sana ada santri Buntet yang pernah mondok lalu menjadi guru agama. Saya sangat bangga dengan alumni Timor di sana yang sangat menjaga kedamaian dan pergaualan antar agama. Betapa salutnya saya kepada alumni Buntet di sana dan hampir tidak percaya, bagaimana mungkin dalam setiap acara peringatan hari besar Islam masyarakat yang hadir bukan saja dari komunitas Islam namun dari berbagai agama yang ada di sana dan yang masih memegang adat istiadat (tidak beragama). Ini luar biasa yang jarang ditemui di tempat manapun.
Dengan bermodalkan kultur yang cukup bagus akhirnya saya memberanikan diri untuk pergi ke sana dalam rangka memberikan wacana pemahaman akan pentingnya persatuan. Bismillah dengan mendapatkan izian dari sesepuh Buntet Pesantren, KH. Abdullah Abbas dan para kyai sepuh lainnya dari Buntet, akhirnya berangkatlah ke sana.
Sambutan luar biasa dan tidak bisa diduga sama sekali. Peringatan Mualid itu ternyata membawa berkah yang sangat berkesan di hati dan tidak dilupakan sepanjang hayat saya. Bagaimana tidak, waktu itu saya dalam sesi yang menegangkan mempertemukan Pendeta dari pihak Protestan dan Romo dari pihak Katolik. Padahal dua petinggi agama di sana belum pernah bertemu dalam satu forum.
“Pak kyai, saya sangat berterima kasih sekali kepada pak kyai dengan perantaraan Anda saya bisa bertemu dan bersalaman dengan Pak Pendeta, padahal saya sebelumnya belum pernah bertemu.” Kata pemimpin Katolik. Ungkapan yang sama dilontarkan pula oleh pak Pendeta dari pihak Protestan. Demikian ucapan itu membuat hati saya sangat bahagia waktu itu.
“Sebenarnya nasehat apa sih yang Kang Cecep berikan kepada mereka sehingga bisa berdamai begitu tulus”, kata saya penasaran.
“Ya saya terangkan saja bahwa di dalam Islam banyak ayat-ayat yang menerangkan agar kita mengakui dan mengimani adanya Nabi Isa 'Aalaihissalam (Yesus dalam ungkapan mereka) sebagai pemimpin agama Nasrani.” Itu saja yang saya terangkan dengan berbagai macam bumbu yang intinya buat apa bertengkar toh pada akhirnya akan merugikan semua pihak.
Dari cerita ini saya yakin Buntet sangat hafal dengan ayat-ayat yang dilontarkan pada tulisan teresebut dan benar-benar mempraktekkan dalam membawa misi agama Islam sebagai rakhmatan lil ‘alamin.
Pancasila Lahir dari UlamaKomentar saya pada bagian kedua tulisan teman Pak Latif dari London bahwa agama selain Islam yang masuk dalam kategori agama langit hendaknya diterima sebagai agama yang sah dan bisa dijadikan sebagai komponen masyarakat Indonesia. Bagi saya, ini pun bukan isu baru dan sepertinya tidak memahami kultur budaya NU dan pesantren.
Bagaimana mungkin jika Pancasila sebagai satu-satunya asas kehidupan berbangsa dan bernegara itu justru lahir dari masyrakat NU bukan dari organisasi keagamaan lainnya. Apalagi yang berpaham kebangsaan.
Kedua, bahwa siapapun yang menentang Pancasila, maka kyai-kyai NU seolah-olah siap pasang badan jika ada orang lain yang berani-berani mengubah asas kebangsaan dari pancasila ke asas lainnya. Meskipun seolah-olah Islami.
Gus Dur, salah satu dari komponen NU begitu gencarnya mengkampanyekan pluralisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikiran-pemikiran beliau mengkristal dan menjadi buah perbincangan dan menjadi acuan pemikiran para generasi muda selanjutnya misalnya dari Lakpesdam NU anak-anak NU yang terlibat dalam JIL. Dalam ormas Muhammadiyah pun, membentuk JIMM (Jaringan Inetelektual Muda Muahmmadiyah). Hal ini merupakan bukti upaya dalam memanaj hidup berbangsa untuk menjaga sikap dan sifat plural. Sehingga sangat naif jika Islam hanya sebagai agama yang yang dianut sementara implementasi sosialnya masih cenderung egois.
Memang ada upaya-upaya dari pihak di luar kultur pesantren yang berupaya menjegal adanya pancasila dan hendak diganti oleh semangat syaria’at Islam. Namun itulah menurut saya, bagian dari rakhmat di alam ini. Bukankah perbedaan dalam penafsiran beragama merupakan rakhamt bagi kita. Namun tetap sikap NU dan masyarakat pesantren yang di bawah naungan NU begitu tegas bahwa Islam kultur adalah lebih mengena dalam berdakwah ketimbang islam Impor yang kadang berbenturan dengan berbagai komponen sosial masyarakatnya.
Menurut saya artikel tadi tidak tepat ditujukan kepada pesantren akan lebih baik diajukan kepada komponen yang semangat untuk menegakkan “syaraiat Islam”. Karena pasti di sana akan terbelalak dengan alergi dengan isi artikel di atas. Namun bagi pesantren bukan hal baru isu-isu seperti itu. Wallahu a’lam
22 March 2007
Kematian yang Tragis | Pelajaran bagi yang Siap Mati
Sebuah Analisa Berita
Dalam satu minggu ke belakang ada dua peristiwa kematian yang mengerikan. Pertama, kejadian seorang ibu membunuh ke empat anaknya lalu membunuh dirinya sendiri. Kedua, ditembaknya seorang Wakapolwiltabes Semarang oleh anak buahnya sendiri dengan pistol. Itulah potret ajal manusia dengan berbagai macam caranya. Seolah peristiwa tersebut memberikan pelajaran bagi bangsa Indonesia.
Pelajaran apa? Salah satunya adalah pelajaran tentang bagaimana memaknai kemiskinan. Dua peristiwa itu jika dirunut ada benang merah yang merajuti masalah kemiskinan. Bagi si ibu yang membunuh empat orang anaknya, lalau membunuh dirinya sendiri, dalam berita lansiran media, diduga kuat karena kemiskinan mendera keluarganya setelah usahanya bangkrut sehingga suaminya merantau ke kota lain demi mencari pekerjaan untuk mengurangi beban hidupnya yang tinggi sebab ke empat anak-anaknya disekolahkan pada lembaga pendidikan elit. Pada peristiwa penembakan Wakapolwiltabes Semarang, juga diduga kuat karena rasa tidak setuju anak buahnya dipindahkan ke tempat yang dianggap kurang menguntungkan.
Ketika kemiskinan menjadi bagian dari kehidupan seseorang, maka tidak setiap orang mampu menahan deritanya. Sebab saat ini, tidak sedikit orang menganggap bahwa kemiskinan harta merupakan momok yang memalukan. Ajaran eksistensialis memberikan wacana bahwa keberadaan seseorang dilihat dari eksistensinya saat itu. Jika saja kemiskinan dianggap oleh orang ramai sebagai bagian dari suatu keadaan yang memalukan, maka siapapun yang dihinggapi keadaan ini akan memberontak, dan menghindari keadaan ini, apapun caranya. Maka bagi yang memiliki kemampuan akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari kemiskinan. Bagi yang sudah berusaha kemudian juga tetap gagal, maka daya tahan tiap orang berbeda-beda: yang berhati luas akan menerima dengan lapang dada, sementara yang berhati sempit dan dikuasi emosi akan memberontak baik kepada keadaan dan penyebabnya ataupun memberontak pada dirinya sendiri. Lahirlah depressi yang berujung kepada bunuh diri. Dua peristiwa di atas setidaknya menggambarkan dua keadaan orang yang sama-sama memberontak kepada kemiskinan.
Di dalam literatur keagamaan baik yang terstruktur maupun literatur yang ditutur, seringkali menyebutkan bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu keadaan yang memalukan. Namun juga bukan sesuatu yang harus dikembangkan. Sebab bagi masyarakat yang memegang konsep keimanan kepada hal yang gaib, ketika kegagalan setelah berusaha, menerpa individu, yang disalahkan adalah dirinya dan yang dibenarkan adalah di luar dirinya. Di sini manusia diuji bahwa di dalam dirinya ada hal yang ghaib (misteri) yang tidak dipahami, dan di luar dirinya, ada Maha Gaib (Maha Misteri) yang pasti dipercaya memahami keadaan kemisterian dirinya. Karena itu, sebuah kegagalan hasil ikhtiar, merupakan peristiwa alami yang menjadi bagian sunnatullah, dan pasti ada hikmah terpendam yang sangat besar manfaatnya. Sebab tidak satupun makhluk yang stabil di dunia ini, hanyalah Allah Subhanahu Wata'ala yang maha Stabil. Pengingkaran akan hal tersebut yaitu mengingkari kelemahan diri (tidak stabil) bisa jadi merupakan embrio kemusyrikan. Bukankah dosa kemusyrikan itu tidak kecil porsinya.
Sebagai ikhtiar diri untuk bisa tetap survive baik dalam kondisi untung ataupun rugi maka kita bisa memahami ulang konsep-konsep keagamaan sebagai bagian dari filosofi hidup bahkan sebagia langkah action agar tetap dalam kondisi “tenang-tenang saja”.
Pertama, mestilah kita meredefinisi konsep “kesabaran” dalam literatur kegamaan dihubungkan dengan gaya management modern saat ini. Dalam pepatah arab bertutur: “Ashobru yu’inu ‘ala kulli amalin” kesabaran itu dapat menolong kepada setiap pekerjaan. Sabar di sini bisa diartikan sebagai konsep untuk berpegang teguh kepada aturan. Seandainya aturan ditaati, maka segala pekerjaannya menjadi lancar. Berarti berdisiplin dalam pekerjaan, jujur dalam aturan, mengikuti prosedur merupakan aplikasi dari konsep sabar di atas. Seandainyapun terjadi pelanggaran, maka karena ada aturan yang telah disepakati, konsekwensinya adalah menerima hukuman sebagai bagian dari pengingkaran konsep sabar. Kita bisa belajar kepada salah satu film Jepang sorang anak buah suatu geng mafia merasa gagal dalam tugas, ia memotong jarinya sendiri di hadapan sang ketua diskasikan anak buah yang lainnya, sebagai bagian dari rasa ketidak disiplinannya. Namun bukan untuk ditiru caranya, tetapi rasa tanggungjawabnya kepada aturan merupakan pelajaran berharga dari film tersebut.
واستعينوا بالصبر والصلوة"Bermohonlah kepada Allah Subhanahu Wata'ala terhadap segala urusanmu dengan sabar dan shalat."
Di sini sabar dan sholat boleh jadi sebagai metodologi (sebuah ilmu) yang harus dipahami betul bahwa ternyata ada metode, cara yang ampuh untuk bisa menolongi segala urusan. Tanpa dua hal tadi, maka janganlah berharap segala urusan bisa disukseskan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Karena sabar dan shalat adalah sebuah metodologi (ilmu) maka shalat ritual dan shalat aktual adalah dua ujung benang yang bersambung tanpa boleh terputus. Keduanya ini merupakan bagian dari ibadah baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.
Kedua, bagi pemegang kekuasaan peristiwa tadi merupakan ujung protes yang mesti ditanggapi dengan serius. Karena betapa negara yang tengah berbenah ini masih menyisakan berbagai derita dan itu menimpa bagi siapa saja. Protes ini merupakan ketidakmampuan individu dalam menyikapi keadaan. Entah apakah kurang cerdasnya masyarakat memahami diri atau tidak seriusnya negara dalam menangani berbagai masalah yang bertubi-tubi datangnya. Sepertinya pemerintah masih kesulitan dalam mengaplikasikan ilmu sabar diterapkan kepada jajaran instansinya. Apalagi ilmu shalat aktual.
Keadaan ini mestilah dijadikan hikmah bagi siapa pun baik pemerintah maupun individu masyarakat. Kemiskinan yang mendera bangsa bukan sulit untuk diatasi, namun kesabaran mengatasinyalah yang sulit mengaktual dalam kehidupan.
Agaknya, suara-suara ulama di berbagai tempat tidak kurang dalam memberikan wacana seperti ini. Pesantren di mana-manapun tidak kurang mengajarkan kesabaran, hanya sayangnya gaung para ulama kurang bisa menembus hati para penguasa. Semoga dua peristiwa tadi menjadi pelajaran bagi para elit agar kembali kepada metode mengatasi masalah dengan sabar dan shalat. Baik sabar atau shalat ritual maupun aktual.
Wallahu a’lam.
Dalam satu minggu ke belakang ada dua peristiwa kematian yang mengerikan. Pertama, kejadian seorang ibu membunuh ke empat anaknya lalu membunuh dirinya sendiri. Kedua, ditembaknya seorang Wakapolwiltabes Semarang oleh anak buahnya sendiri dengan pistol. Itulah potret ajal manusia dengan berbagai macam caranya. Seolah peristiwa tersebut memberikan pelajaran bagi bangsa Indonesia.
Pelajaran apa? Salah satunya adalah pelajaran tentang bagaimana memaknai kemiskinan. Dua peristiwa itu jika dirunut ada benang merah yang merajuti masalah kemiskinan. Bagi si ibu yang membunuh empat orang anaknya, lalau membunuh dirinya sendiri, dalam berita lansiran media, diduga kuat karena kemiskinan mendera keluarganya setelah usahanya bangkrut sehingga suaminya merantau ke kota lain demi mencari pekerjaan untuk mengurangi beban hidupnya yang tinggi sebab ke empat anak-anaknya disekolahkan pada lembaga pendidikan elit. Pada peristiwa penembakan Wakapolwiltabes Semarang, juga diduga kuat karena rasa tidak setuju anak buahnya dipindahkan ke tempat yang dianggap kurang menguntungkan.
Ketika kemiskinan menjadi bagian dari kehidupan seseorang, maka tidak setiap orang mampu menahan deritanya. Sebab saat ini, tidak sedikit orang menganggap bahwa kemiskinan harta merupakan momok yang memalukan. Ajaran eksistensialis memberikan wacana bahwa keberadaan seseorang dilihat dari eksistensinya saat itu. Jika saja kemiskinan dianggap oleh orang ramai sebagai bagian dari suatu keadaan yang memalukan, maka siapapun yang dihinggapi keadaan ini akan memberontak, dan menghindari keadaan ini, apapun caranya. Maka bagi yang memiliki kemampuan akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari kemiskinan. Bagi yang sudah berusaha kemudian juga tetap gagal, maka daya tahan tiap orang berbeda-beda: yang berhati luas akan menerima dengan lapang dada, sementara yang berhati sempit dan dikuasi emosi akan memberontak baik kepada keadaan dan penyebabnya ataupun memberontak pada dirinya sendiri. Lahirlah depressi yang berujung kepada bunuh diri. Dua peristiwa di atas setidaknya menggambarkan dua keadaan orang yang sama-sama memberontak kepada kemiskinan.
Di dalam literatur keagamaan baik yang terstruktur maupun literatur yang ditutur, seringkali menyebutkan bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu keadaan yang memalukan. Namun juga bukan sesuatu yang harus dikembangkan. Sebab bagi masyarakat yang memegang konsep keimanan kepada hal yang gaib, ketika kegagalan setelah berusaha, menerpa individu, yang disalahkan adalah dirinya dan yang dibenarkan adalah di luar dirinya. Di sini manusia diuji bahwa di dalam dirinya ada hal yang ghaib (misteri) yang tidak dipahami, dan di luar dirinya, ada Maha Gaib (Maha Misteri) yang pasti dipercaya memahami keadaan kemisterian dirinya. Karena itu, sebuah kegagalan hasil ikhtiar, merupakan peristiwa alami yang menjadi bagian sunnatullah, dan pasti ada hikmah terpendam yang sangat besar manfaatnya. Sebab tidak satupun makhluk yang stabil di dunia ini, hanyalah Allah Subhanahu Wata'ala yang maha Stabil. Pengingkaran akan hal tersebut yaitu mengingkari kelemahan diri (tidak stabil) bisa jadi merupakan embrio kemusyrikan. Bukankah dosa kemusyrikan itu tidak kecil porsinya.
Sebagai ikhtiar diri untuk bisa tetap survive baik dalam kondisi untung ataupun rugi maka kita bisa memahami ulang konsep-konsep keagamaan sebagai bagian dari filosofi hidup bahkan sebagia langkah action agar tetap dalam kondisi “tenang-tenang saja”.
Pertama, mestilah kita meredefinisi konsep “kesabaran” dalam literatur kegamaan dihubungkan dengan gaya management modern saat ini. Dalam pepatah arab bertutur: “Ashobru yu’inu ‘ala kulli amalin” kesabaran itu dapat menolong kepada setiap pekerjaan. Sabar di sini bisa diartikan sebagai konsep untuk berpegang teguh kepada aturan. Seandainya aturan ditaati, maka segala pekerjaannya menjadi lancar. Berarti berdisiplin dalam pekerjaan, jujur dalam aturan, mengikuti prosedur merupakan aplikasi dari konsep sabar di atas. Seandainyapun terjadi pelanggaran, maka karena ada aturan yang telah disepakati, konsekwensinya adalah menerima hukuman sebagai bagian dari pengingkaran konsep sabar. Kita bisa belajar kepada salah satu film Jepang sorang anak buah suatu geng mafia merasa gagal dalam tugas, ia memotong jarinya sendiri di hadapan sang ketua diskasikan anak buah yang lainnya, sebagai bagian dari rasa ketidak disiplinannya. Namun bukan untuk ditiru caranya, tetapi rasa tanggungjawabnya kepada aturan merupakan pelajaran berharga dari film tersebut.
واستعينوا بالصبر والصلوة
Di sini sabar dan sholat boleh jadi sebagai metodologi (sebuah ilmu) yang harus dipahami betul bahwa ternyata ada metode, cara yang ampuh untuk bisa menolongi segala urusan. Tanpa dua hal tadi, maka janganlah berharap segala urusan bisa disukseskan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Karena sabar dan shalat adalah sebuah metodologi (ilmu) maka shalat ritual dan shalat aktual adalah dua ujung benang yang bersambung tanpa boleh terputus. Keduanya ini merupakan bagian dari ibadah baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.
Kedua, bagi pemegang kekuasaan peristiwa tadi merupakan ujung protes yang mesti ditanggapi dengan serius. Karena betapa negara yang tengah berbenah ini masih menyisakan berbagai derita dan itu menimpa bagi siapa saja. Protes ini merupakan ketidakmampuan individu dalam menyikapi keadaan. Entah apakah kurang cerdasnya masyarakat memahami diri atau tidak seriusnya negara dalam menangani berbagai masalah yang bertubi-tubi datangnya. Sepertinya pemerintah masih kesulitan dalam mengaplikasikan ilmu sabar diterapkan kepada jajaran instansinya. Apalagi ilmu shalat aktual.
Keadaan ini mestilah dijadikan hikmah bagi siapa pun baik pemerintah maupun individu masyarakat. Kemiskinan yang mendera bangsa bukan sulit untuk diatasi, namun kesabaran mengatasinyalah yang sulit mengaktual dalam kehidupan.
Agaknya, suara-suara ulama di berbagai tempat tidak kurang dalam memberikan wacana seperti ini. Pesantren di mana-manapun tidak kurang mengajarkan kesabaran, hanya sayangnya gaung para ulama kurang bisa menembus hati para penguasa. Semoga dua peristiwa tadi menjadi pelajaran bagi para elit agar kembali kepada metode mengatasi masalah dengan sabar dan shalat. Baik sabar atau shalat ritual maupun aktual.
Wallahu a’lam.
05 March 2007
Inna LIllahi... Proses Tenggelam di Laut itu Sangat Singkat : Toni Cepatlah Pulang....
Tenggelam di dasar laut atau terbawa arus gelombang yang ganas, kemudian tidak ditemukan jasadnya berhari-hari, biasanya hanya terlihat di televisi, koran atau internet. Berita-berita itu sudah sering kita dengar bahkan menjadi irama bencana yang terus-menerus meniupkan nada-nada yang menggedor nurani dan Iman kita. Tetapi kemarin, Minggu, 4 Maret 2007, kami serombongan menyaksikan sendiri bagaimana kawan serombongan kami, Toni Harsono, berjuang mempertahankan hidup dan mati di tengah gelombang samudra pantai Suraga, Anyer. Proses tenggelamnya Toni kawan saya, begitu cepat dan hilang ditelan air laut yang luas itu.
Sungguh kami semua rombongan tidak bisa berkata-kata. Teman-teman laki-laki sesama panitia teriak-teriak "toloong..... cepat Toni tenggelam!". Para wanita dan ibu-ibu yang tengah ikut ke tepi pantai langsung buru-buru lari dari air. Anak-anak kecil yang tengah mandi di panati itupun terbirit-birit langsung ke tepi. "Cepat semuanya jangan mandi, ada orang tenggelam....!" begitu teriak ibu Ning. Saat itu saya tengah cerpen kompas yang baru di baca 1/3 bagian itu langsung dibuang. Anakku langsung ditarik ke tempi, isteriku berlari-lari dan mencerit-jerit minta kepada orang-orang agar menolong Toni yang tengah tenggelam.
Teman-teman wanita lainya, pun menjerit-jerit memeinta tolong, ketika menyaksikan saat terakhir Toni, melambaikan tangannya di atas permukaan laut. Ia timbul tenggelam sebanyak dua kali. Lambaian pertama seakan memberi kode "selamat inggal" sebab lambaian itu mirip orang yang mau pergi jauh dengan memekarkan lima jarinya, dan digeser ke kanan dan ke kiri. Lambaian kedua seolah-olah meminta tolong dengan gerakan seperti orang memanggil. Kedua lambaian tangan itu hanya dua kali. Sementara kepalanya tidak tampak di permukaan.
Toni bersama 3 kawannya, menyewa ban milik petugas pantai. Kemudian seperti biasanya mereka bermain dengan ban itu di pinggir pantai. Namun entah mengapa tiba-tiba saja ban itu menggeser ke tengah bukannya mengikuti ombak ke pinggir. Rupanya mereka semakin bingung, karena ban itu seolah-olah terbawa arus ke tengah. Dengan kepanikan tersbut, rupanya, Toni telepas dan sapuan ombak di tengah lebih besar. Di tengah kepanikan lagi, Toni, yang ketua rombongan itu mungkin bertanggung jawab dan berusaha meminggirkan ban itu agar jangan ke tengah. Namun sayang nasib kehidupan tidak berpihak padanya. Ban itu justru telepas jauh karena di tengah dia tidak kencang pegangan tangannya dengan ban satu-satunya itu, 3 kawan lainya berhasil selamat sementara dia sendiri terlepas dari ban dan hanyut di telan arus laut yang semakin ganas.
Saat itu udara sebenarnya sangat cerah. Terik matahari begitu menyengati kulitku dibamah dengan sepoi angin pantai yang khas dan sapuan ombak yang berganti-ganti nadanya. Saat menunjukkan jam 13.30 wib dimana kami telah menunaikan shalat dan saya pun mengikuti dan mengawasi anak-anakku yang tengah mandi. Sedangkan para remaja putra dan putri telah lebih dahulu mandi di pantai. Tidak tahunya, kejadian Toni tenggelam itu sangat singkat.
Kini, toni masih berada di pantai suraga. Para Petugas pantai dan polisi dari Polres Serang tengah berusaha menemukan jasad Toni. Sampai tulisan ini dihadirkan, Toni masih terbaring tenang di dalam ayunan gelombang laut yang dingin namun hangat. Semoga Toni, yang memilii senyuman mirip Toming Tse itu bisa cepat ditemukan dan kami sekeluarga bisa mengiringi jenzahnya untuk dikubur di pemakaman biasa.
Innalillahi wainna Ilaihi Rajiuuun.
Sungguh kami semua rombongan tidak bisa berkata-kata. Teman-teman laki-laki sesama panitia teriak-teriak "toloong..... cepat Toni tenggelam!". Para wanita dan ibu-ibu yang tengah ikut ke tepi pantai langsung buru-buru lari dari air. Anak-anak kecil yang tengah mandi di panati itupun terbirit-birit langsung ke tepi. "Cepat semuanya jangan mandi, ada orang tenggelam....!" begitu teriak ibu Ning. Saat itu saya tengah cerpen kompas yang baru di baca 1/3 bagian itu langsung dibuang. Anakku langsung ditarik ke tempi, isteriku berlari-lari dan mencerit-jerit minta kepada orang-orang agar menolong Toni yang tengah tenggelam.
Teman-teman wanita lainya, pun menjerit-jerit memeinta tolong, ketika menyaksikan saat terakhir Toni, melambaikan tangannya di atas permukaan laut. Ia timbul tenggelam sebanyak dua kali. Lambaian pertama seakan memberi kode "selamat inggal" sebab lambaian itu mirip orang yang mau pergi jauh dengan memekarkan lima jarinya, dan digeser ke kanan dan ke kiri. Lambaian kedua seolah-olah meminta tolong dengan gerakan seperti orang memanggil. Kedua lambaian tangan itu hanya dua kali. Sementara kepalanya tidak tampak di permukaan.
Toni bersama 3 kawannya, menyewa ban milik petugas pantai. Kemudian seperti biasanya mereka bermain dengan ban itu di pinggir pantai. Namun entah mengapa tiba-tiba saja ban itu menggeser ke tengah bukannya mengikuti ombak ke pinggir. Rupanya mereka semakin bingung, karena ban itu seolah-olah terbawa arus ke tengah. Dengan kepanikan tersbut, rupanya, Toni telepas dan sapuan ombak di tengah lebih besar. Di tengah kepanikan lagi, Toni, yang ketua rombongan itu mungkin bertanggung jawab dan berusaha meminggirkan ban itu agar jangan ke tengah. Namun sayang nasib kehidupan tidak berpihak padanya. Ban itu justru telepas jauh karena di tengah dia tidak kencang pegangan tangannya dengan ban satu-satunya itu, 3 kawan lainya berhasil selamat sementara dia sendiri terlepas dari ban dan hanyut di telan arus laut yang semakin ganas.
Saat itu udara sebenarnya sangat cerah. Terik matahari begitu menyengati kulitku dibamah dengan sepoi angin pantai yang khas dan sapuan ombak yang berganti-ganti nadanya. Saat menunjukkan jam 13.30 wib dimana kami telah menunaikan shalat dan saya pun mengikuti dan mengawasi anak-anakku yang tengah mandi. Sedangkan para remaja putra dan putri telah lebih dahulu mandi di pantai. Tidak tahunya, kejadian Toni tenggelam itu sangat singkat.
Kini, toni masih berada di pantai suraga. Para Petugas pantai dan polisi dari Polres Serang tengah berusaha menemukan jasad Toni. Sampai tulisan ini dihadirkan, Toni masih terbaring tenang di dalam ayunan gelombang laut yang dingin namun hangat. Semoga Toni, yang memilii senyuman mirip Toming Tse itu bisa cepat ditemukan dan kami sekeluarga bisa mengiringi jenzahnya untuk dikubur di pemakaman biasa.
Innalillahi wainna Ilaihi Rajiuuun.
28 February 2007
A3H1 = Rumus Musibah
بسم الله الرحمن الرحيم وما يعلم جنود ربك إلا هو
"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31)
Dari sekian banyak rakhmat Allah, hujan merupakan salah satunya. Siti 'Aisyah ra berkata: "Jika baginda Rasululah saw. melihat hujan, baginda akan berkata: Itu adalah rahmat.” Namun mengapa dari rakhmat berbentuk hujan itu kemudian berubah menjadi musibah banjir yang sampai saat ini masih berlangsung di Jakarta dan wilayah Indonesia lainnya dan diprediksi akan berlangsung lama.
Saat ini, saya sendiri dan semua warga yang terkena musibah masih merasakan dampak pisik dan psikologis dari musibah yang menimpa kita dan masih akan ada kemungkinan terkena musibah susulan dari dampak kebanjiran. Ternyata kita sebagai manusia tak bisa berkutik menghadapi tentara Allah berupa air hujan. Tak berbuat apa-apa selain menerima ujian ini dengan kesabaran.
Tentara AllahSebelumnya, musibah-musibah itu bak antrian panjang di bumi persada ini. Dari musibah yang terjadi beruntun ini paling tidak ada empat pemicunya. Mulai dari Air laut dan air hujan, ia bisa menjadi tsunami atau banjir bah jika berasal dari hujan. Kadang air itu meluap/menyembur ke permukaan bumi dan bercampur dengan lumpur atau api seperti di Porong, Sidoardjo dan Gunung Berapi di Yogyakarta. Kedua, Angin yang menerjang pesawat terbang hingga jatuh, angin puyuh, angin puting beliung, atau tornado yang bisa meluluhlantakkan rumah penduduk. Ketiga, Api yang membakar segala prasarana seperti pasar dan rumah. Keempat, Hama baik berupa virus flu burung (H5N1) atau nyamuk demam berdarah yang mematikan serta virus lain seperti HIV dan hama-hama lain yang menyerang tanaman dan penyakit.
Dalam buku-buku ulama salaf dikatakan bahwa keempat macam jenis pemicu musibah ini masuk dalam kategori tentara Allah yang kelihatan. Sebenarnya ada juga tentara Allah yang tidak tampak seperti "musawwimin" malaikat yang diturunkan Allah membela perang badar dan perang khandak.
Naskah (ayat) dalam Al Qur'an jelas menyebut bahwa Allah memiliki tentara yang memenuhi langit dan bumi. (Alfath: 7) Ketika perang Khandak, Allah pun menurunkan tentara berupa angin topan dan tentara yang tidak keliahatan yaitu malaikat. (Al Ahzab: 9) Tidak ada yang mengetahui tentara Allah melain¬kan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31). Angin juga merupakan tentara sebagaimana Rasul saw bersabda: "Aku ditolong oleh angin timur sedangkan kaum Ad dihancurkan oleh angin barat." (tafsir al Qurthubi)
روي سعيد بن جابر عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نصرت بالصبا واهلكت عاد بالدَّبور
Air Hujan sebagai Sumber RezekiBermula dari rezeki namun berakhir petaka. Hal ini terjadi karena awalnya, Allah subhanahu wata'ala mengirim rezeki manusia salah satunya didatangkan dari tumbuh-tumbuh¬an. Ia bisa tumbuh dan berkembang di bumi karena air hujan. Planet lain tidak bertumbuh karena konon air tidak tersedia. Kujadikan air hujan itu diturunkan dari langit dan menjadikan buah-buahan sebagai rezekimu (Al Baqarah 22). Bumi yang gersangpun dengan dituruni hujan jadi subur (Al Baqarah 164). Allah mengeluarkan rezeki dari langit dan dari dalam bumi untuk manusia (An Naml 64, Faatir 3, Al Mu'min 13, Jatsiah 5).
Karenanya telah jelas sekali bahwa Allah menurunkan rezeki dari langit dan bumi otomatis semuanya rahmat. Lalu darimana sisi rakhmatnya. Awalnya rezeki kok terjadi musibah banjir di mana-mana.
Salah Menggunakan Rezeki
Rezeki yang begitu berlimpah dari air hujan menjadikan manusia kaya raya dan memiliki banyak uang. Namun karena salah menggunakan rezeki akhirnya berubah petaka. Misalnya, mengapa rezeki itu digunakan untuk maksiat; untuk membuat kerusakan (Al Baqarah 60); rezekinya tidak disyukuri (Ibrahim 7, Saba 15); untuk berfoya-foya; tidak ditasarufkan (disalurkan) kepada yang berhak (Mujadilah 13). Dan masih banyak ayat dan Hadits yang intinya memberi arahan agar jangan salah dalam menggunakan rezeki sebagai rakhmat Allah swt.
Akibat dari pengingkaran terhadap rakhmat Allah, maka jangan heran ketika tentara Allah terkumpul dalam rumus A3H1 (air, angin, api & Hama). Ia juga merupakan rakhmat namun menjadi mengamuk kepada manusia. Sebab tentara berupa air ini sudah disalahgunakan oleh manusia. Tentara lain seperti angin, api dan hama tentu akan mengamuk pula. Sebab ketiga tentara tersebut semuanya mendukung rakhmat Allah swt terhadap segala kenikmatan bagi manusia.
Air sebagai sumber kehidupan. Angin sebagai medium untuk membuat tumbuhan jadi berbuah dengan perantaraan putik sari pada bunga akan terjadi pekawinan dan menghasilkan buah-buahan dan biji-bijian. Hama dan hewan terbang lainnya, merupakan medium untuk mengantarkan kesuburan bagi tanaman dan bisa menghasilkan buah. Api sebagai tentara Allah swt bertugas untuk menjadikan rezeki berupa buah-buahan bisa dimatang¬kan dan sehingga bisa dinikmati oleh segenap manusia. Dengan api manusia bisa memperoleh buah yang bisa dimatangkan melalui kehangatannya. Api dalam listrik dan api dalam suhu udara merupakan akvitas yang nyata bagi kehangatan dan keramaian bumi.
Namun karena kesalahan manusia maka akhirnya tentara-tentara itu terindikasi mengamuk dan memperlihatkan powernya. Kini manusia hanya menerima kedahsyatan musibah tersebut. Bagi yang beriman memandang musibah sebagia cobaan dan bagi yang kufur akan mengumpat serta mengeluh dan berharap kasihan dari orang lain.
Musibahpun Menimpa Orang BerimanJika tentara Allah swt telah menunjukkan powernya, maka bumi terkesan rusak. Dampak dari musibah ini tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat maksiat namun juga berdampak kepada orang-orang yang beriman. Peringatan ini sudah cukup jelas dalam ayat Al qur'an.
واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب (الأنفال 25
Artinya: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal: 25).
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ *
"Ya Rasulullah apakah kami akan terkena dampak fitnah musibah sedangkan kami orang-orang sholeh? Dijawab oleh Nabi: "Benar apabila ditemui banyak kemaksiatan".
Imam Al Qurthubi berkata: "Menurut ulama kami, jika fitnah telah beraksi maka rusak semuanya."
إذا انزل الله بقوم عذابا اصاب العذاب من كان فيهم ثم بعثوا على أعمالهم
"Jika Allah turunkan adzab, maka ia akan menimpa siapa saja kemudian Allah membangkitkan mereka berdasakan amal perbuatannya." Menurut penjelasanya, hadits ini menunjukkan bahwa kerusakan akan menimpa secara umum; bagi orang sholeh, tholih (rusak) dan orang dhlim. Namun ia merupakan pembersih bagi orang mukmin/shalih (tuhrotan lilmu'minin) dan merupakan balasan (nuqmatan) bagi orang fasiq.
Karena itu mari semuanya dikembalikan kepada Allah: Innalilahi wainna ilaihi raji'uun. Sesunggunya semuanya berasal dari Allah dan hendaklah dikembalikan kepada-Nya. Alam ini milik-Nya seyogyanya, mari kita rawat bumi dan segala isinya untuk rakhmatan lil 'alamin. Jangan sampai memancing tentara Allah menjadi marah.
Wallahu 'alam.
Sumber:
Al Qur'an Depag RI, Tafsir Jalalen, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Kutubussittah, Al Bayan Hadits Shoheh.
Catatn Penulis: Diizinkan mengutip, menyadur, menyalin, menyebar luaskan tulisan ini untuk tujuan apapun. Namun mohon dikoreksi terlebih dahulu, dengan teliti sebab bisa jadi terdapat banyak kesalahan: salah tulis, salah kutip, salah kesimpulan, salah menyadur juga bisa jadi banyak perbedaan pendapat karena keterbatasan pengetahuan penulis.
H
بسم الله الرحمن الرحيم وما يعلم جنود ربك إلا هو
"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31)
Dari sekian banyak rakhmat Allah, hujan merupakan salah satunya. Siti 'Aisyah ra berkata: "Jika baginda Rasululah saw. melihat hujan, baginda akan berkata: Itu adalah rahmat.” Namun mengapa dari rakhmat berbentuk hujan itu kemudian berubah menjadi musibah banjir yang sampai saat ini masih berlangsung di Jakarta dan wilayah Indonesia lainnya dan diprediksi akan berlangsung lama.
Saat ini, saya sendiri dan semua warga yang terkena musibah masih merasakan dampak pisik dan psikologis dari musibah yang menimpa kita dan masih akan ada kemungkinan terkena musibah susulan dari dampak kebanjiran. Ternyata kita sebagai manusia tak bisa berkutik menghadapi tentara Allah berupa air hujan. Tak berbuat apa-apa selain menerima ujian ini dengan kesabaran.
Tentara AllahSebelumnya, musibah-musibah itu bak antrian panjang di bumi persada ini. Dari musibah yang terjadi beruntun ini paling tidak ada empat pemicunya. Mulai dari Air laut dan air hujan, ia bisa menjadi tsunami atau banjir bah jika berasal dari hujan. Kadang air itu meluap/menyembur ke permukaan bumi dan bercampur dengan lumpur atau api seperti di Porong, Sidoardjo dan Gunung Berapi di Yogyakarta. Kedua, Angin yang menerjang pesawat terbang hingga jatuh, angin puyuh, angin puting beliung, atau tornado yang bisa meluluhlantakkan rumah penduduk. Ketiga, Api yang membakar segala prasarana seperti pasar dan rumah. Keempat, Hama baik berupa virus flu burung (H5N1) atau nyamuk demam berdarah yang mematikan serta virus lain seperti HIV dan hama-hama lain yang menyerang tanaman dan penyakit.
Dalam buku-buku ulama salaf dikatakan bahwa keempat macam jenis pemicu musibah ini masuk dalam kategori tentara Allah yang kelihatan. Sebenarnya ada juga tentara Allah yang tidak tampak seperti "musawwimin" malaikat yang diturunkan Allah membela perang badar dan perang khandak.
Naskah (ayat) dalam Al Qur'an jelas menyebut bahwa Allah memiliki tentara yang memenuhi langit dan bumi. (Alfath: 7) Ketika perang Khandak, Allah pun menurunkan tentara berupa angin topan dan tentara yang tidak keliahatan yaitu malaikat. (Al Ahzab: 9) Tidak ada yang mengetahui tentara Allah melain¬kan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31). Angin juga merupakan tentara sebagaimana Rasul saw bersabda: "Aku ditolong oleh angin timur sedangkan kaum Ad dihancurkan oleh angin barat." (tafsir al Qurthubi)
روي سعيد بن جابر عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نصرت بالصبا واهلكت عاد بالدَّبور
Air Hujan sebagai Sumber RezekiBermula dari rezeki namun berakhir petaka. Hal ini terjadi karena awalnya, Allah subhanahu wata'ala mengirim rezeki manusia salah satunya didatangkan dari tumbuh-tumbuh¬an. Ia bisa tumbuh dan berkembang di bumi karena air hujan. Planet lain tidak bertumbuh karena konon air tidak tersedia. Kujadikan air hujan itu diturunkan dari langit dan menjadikan buah-buahan sebagai rezekimu (Al Baqarah 22). Bumi yang gersangpun dengan dituruni hujan jadi subur (Al Baqarah 164). Allah mengeluarkan rezeki dari langit dan dari dalam bumi untuk manusia (An Naml 64, Faatir 3, Al Mu'min 13, Jatsiah 5).
Karenanya telah jelas sekali bahwa Allah menurunkan rezeki dari langit dan bumi otomatis semuanya rahmat. Lalu darimana sisi rakhmatnya. Awalnya rezeki kok terjadi musibah banjir di mana-mana.
Salah Menggunakan RezekiRezeki yang begitu berlimpah dari air hujan menjadikan manusia kaya raya dan memiliki banyak uang. Namun karena salah menggunakan rezeki akhirnya berubah petaka. Misalnya, mengapa rezeki itu digunakan untuk maksiat; untuk membuat kerusakan (Al Baqarah 60); rezekinya tidak disyukuri (Ibrahim 7, Saba 15); untuk berfoya-foya; tidak ditasarufkan (disalurkan) kepada yang berhak (Mujadilah 13). Dan masih banyak ayat dan Hadits yang intinya memberi arahan agar jangan salah dalam menggunakan rezeki sebagai rakhmat Allah swt.
Akibat dari pengingkaran terhadap rakhmat Allah, maka jangan heran ketika tentara Allah yang juga rakhmat menjadi mengamuk kepada manusia. Sebab tentara berupa air ini sudah disalahgunakan oleh manusia. Tentara lain seperti angin, api dan hama tentu akan mengamuk pula. Sebab ketiga tentara tersebut semuanya mendukung rakhmat Allah swt terhadap segala kenikmatan bagi manusia.
Air sebagai sumber kehidupan. Angin sebagai medium untuk membuat tumbuhan jadi berbuah dengan perantaraan putik sari pada bunga akan terjadi pekawinan dan menghasilkan buah-buahan dan biji-bijian. Hama dan hewan terbang lainnya, merupakan medium untuk mengantarkan kesuburan bagi tanaman dan bisa menghasilkan buah. Api sebagai tentara Allah swt bertugas untuk menjadikan rezeki berupa buah-buahan bisa dimatang¬kan dan sehingga bisa dinikmati oleh segenap manusia. Dengan api manusia bisa memperoleh buah yang bisa dimatangkan melalui kehangatannya. Api dalam listrik dan api dalam suhu udara merupakan akvitas yang nyata bagi kehangatan dan keramaian bumi.
Namun karena kesalahan manusia maka akhirnya tentara-tentara itu terindikasi mengamuk dan memperlihatkan powernya. Kini manusia hanya menerima kedahsyatan musibah tersebut. Bagi yang beriman memandang musibah sebagia cobaan dan bagi yang kufur akan mengumpat serta mengeluh dan berharap kasihan dari orang lain.
Musibahpun Menimpa Orang BerimanJika tentara Allah swt telah menunjukkan powernya, maka bumi terkesan rusak. Dampak dari musibah ini tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat maksiat namun juga berdampak kepada orang-orang yang beriman. Peringatan ini sudah cukup jelas dalam ayat Al qur'an.
واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب (الأنفال 25
Artinya: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal: 25).
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ *
"Ya Rasulullah apakah kami akan terkena dampak fitnah musibah sedangkan kami orang-orang sholeh? Dijawab oleh Nabi: "Benar apabila ditemui banyak kemaksiatan".
Imam Al Qurthubi berkata: "Menurut ulama kami, jika fitnah telah beraksi maka rusak semuanya."
إذا انزل الله بقوم عذابا اصاب العذاب من كان فيهم ثم بعثوا على أعمالهم
"Jika Allah turunkan adzab, maka ia akan menimpa siapa saja kemudian Allah membangkitkan mereka berdasakan amal perbuatannya." Menurut penjelasanya, hadits ini menunjukkan bahwa kerusakan akan menimpa secara umum; bagi orang sholeh, tholih (rusak) dan orang dhlim. Namun ia merupakan pembersih bagi orang mukmin/shalih (tuhrotan lilmu'minin) dan merupakan balasan (nuqmatan) bagi orang fasiq.
Karena itu mari semuanya dikembalikan kepada Allah: Innalilahi wainna ilaihi raji'uun. Sesunggunya semuanya berasal dari Allah dan hendaklah dikembalikan kepada-Nya. Alam ini milik-Nya seyogyanya, mari kita rawat bumi dan segala isinya untuk rakhmatan lil 'alamin. Jangan sampai memancing tentara Allah menjadi marah.
Wallahu 'alam.
Sumber:
Al Qur'an Depag RI, Tafsir Jalalen, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Kutubussittah, Al Bayan Hadits Shoheh.
Catatn Penulis: Diizinkan mengutip, menyadur, menyalin, menyebar luaskan tulisan ini untuk tujuan apapun. Namun mohon dikoreksi terlebih dahulu, dengan teliti sebab bisa jadi terdapat banyak kesalahan: salah tulis, salah kutip, salah kesimpulan, salah menyadur juga bisa jadi banyak perbedaan pendapat karena keterbatasan pengetahuan penulis.
Antri Musibah | Tentara Allah sedang Marahkah?
بسم الله الرحمن الرحيم وما يعلم جنود ربك إلا هو
"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31)
Dari sekian banyak rakhmat Allah, hujan merupakan salah satunya. Siti 'Aisyah ra berkata: "Jika baginda Rasululah saw. melihat hujan, baginda akan berkata: Itu adalah rahmat.” Namun mengapa dari rakhmat berbentuk hujan itu kemudian berubah menjadi musibah banjir yang sampai saat ini masih berlangsung di Jakarta dan wilayah Indonesia lainnya dan diprediksi akan berlangsung lama.
Saat ini, saya sendiri dan semua warga yang terkena musibah masih merasakan dampak pisik dan psikologis dari musibah yang menimpa kita dan masih akan ada kemungkinan terkena musibah susulan dari dampak kebanjiran. Ternyata kita sebagai manusia tak bisa berkutik menghadapi tentara Allah berupa air hujan. Tak berbuat apa-apa selain menerima ujian ini dengan kesabaran.
Tentara AllahSebelumnya, musibah-musibah itu bak antrian panjang di bumi persada ini. Dari musibah yang terjadi beruntun ini paling tidak ada empat pemicunya. Mulai dari Air laut dan air hujan, ia bisa menjadi tsunami atau banjir bah jika berasal dari hujan. Kadang air itu meluap/menyembur ke permukaan bumi dan bercampur dengan lumpur atau api seperti di Porong, Sidoardjo dan Gunung Berapi di Yogyakarta. Kedua, Angin yang menerjang pesawat terbang hingga jatuh, angin puyuh, angin puting beliung, atau tornado yang bisa meluluhlantakkan rumah penduduk. Ketiga, Api yang membakar segala prasarana seperti pasar dan rumah. Keempat, Hama baik berupa virus flu burung (H5N1) atau nyamuk demam berdarah yang mematikan serta virus lain seperti HIV dan hama-hama lain yang menyerang tanaman dan penyakit.
Dalam buku-buku ulama salaf dikatakan bahwa keempat macam jenis pemicu musibah ini masuk dalam kategori tentara Allah yang kelihatan. Sebenarnya ada juga tentara Allah yang tidak tampak seperti "musawwimin" malaikat yang diturunkan Allah membela perang badar dan perang khandak.
Naskah (ayat) dalam Al Qur'an jelas menyebut bahwa Allah memiliki tentara yang memenuhi langit dan bumi. (Alfath: 7) Ketika perang Khandak, Allah pun menurunkan tentara berupa angin topan dan tentara yang tidak keliahatan yaitu malaikat. (Al Ahzab: 9) Tidak ada yang mengetahui tentara Allah melain¬kan Dia sendiri. (Al Muddatsir: 31). Angin juga merupakan tentara sebagaimana Rasul saw bersabda: "Aku ditolong oleh angin timur sedangkan kaum Ad dihancurkan oleh angin barat." (tafsir al Qurthubi)
روي سعيد بن جابر عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نصرت بالصبا واهلكت عاد بالدَّبور
Air Hujan sebagai Sumber RezekiBermula dari rezeki namun berakhir petaka. Hal ini terjadi karena awalnya, Allah subhanahu wata'ala mengirim rezeki manusia salah satunya didatangkan dari tumbuh-tumbuh¬an. Ia bisa tumbuh dan berkembang di bumi karena air hujan. Planet lain tidak bertumbuh karena konon air tidak tersedia. Kujadikan air hujan itu diturunkan dari langit dan menjadikan buah-buahan sebagai rezekimu (Al Baqarah 22). Bumi yang gersangpun dengan dituruni hujan jadi subur (Al Baqarah 164). Allah mengeluarkan rezeki dari langit dan dari dalam bumi untuk manusia (An Naml 64, Faatir 3, Al Mu'min 13, Jatsiah 5).
Karenanya telah jelas sekali bahwa Allah menurunkan rezeki dari langit dan bumi otomatis semuanya rahmat. Lalu darimana sisi rakhmatnya. Awalnya rezeki kok terjadi musibah banjir di mana-mana.
Salah Menggunakan RezekiRezeki yang begitu berlimpah dari air hujan menjadikan manusia kaya raya dan memiliki banyak uang. Namun karena salah menggunakan rezeki akhirnya berubah petaka. Misalnya, mengapa rezeki itu digunakan untuk maksiat; untuk membuat kerusakan (Al Baqarah 60); rezekinya tidak disyukuri (Ibrahim 7, Saba 15); untuk berfoya-foya; tidak ditasarufkan (disalurkan) kepada yang berhak (Mujadilah 13). Dan masih banyak ayat dan Hadits yang intinya memberi arahan agar jangan salah dalam menggunakan rezeki sebagai rakhmat Allah swt.
Akibat dari pengingkaran terhadap rakhmat Allah, maka jangan heran ketika tentara Allah yang juga rakhmat menjadi mengamuk kepada manusia. Sebab tentara berupa air ini sudah disalahgunakan oleh manusia. Tentara lain seperti angin, api dan hama tentu akan mengamuk pula. Sebab ketiga tentara tersebut semuanya mendukung rakhmat Allah swt terhadap segala kenikmatan bagi manusia.
Air sebagai sumber kehidupan. Angin sebagai medium untuk membuat tumbuhan jadi berbuah dengan perantaraan putik sari pada bunga akan terjadi pekawinan dan menghasilkan buah-buahan dan biji-bijian. Hama dan hewan terbang lainnya, merupakan medium untuk mengantarkan kesuburan bagi tanaman dan bisa menghasilkan buah. Api sebagai tentara Allah swt bertugas untuk menjadikan rezeki berupa buah-buahan bisa dimatang¬kan dan sehingga bisa dinikmati oleh segenap manusia. Dengan api manusia bisa memperoleh buah yang bisa dimatangkan melalui kehangatannya. Api dalam listrik dan api dalam suhu udara merupakan akvitas yang nyata bagi kehangatan dan keramaian bumi.
Namun karena kesalahan manusia maka akhirnya tentara-tentara itu terindikasi mengamuk dan memperlihatkan powernya. Kini manusia hanya menerima kedahsyatan musibah tersebut. Bagi yang beriman memandang musibah sebagia cobaan dan bagi yang kufur akan mengumpat serta mengeluh dan berharap kasihan dari orang lain.
Musibahpun Menimpa Orang BerimanJika tentara Allah swt telah menunjukkan powernya, maka bumi terkesan rusak. Dampak dari musibah ini tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat maksiat namun juga berdampak kepada orang-orang yang beriman. Peringatan ini sudah cukup jelas dalam ayat Al qur'an.
واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب (الأنفال 25
Artinya: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal: 25).
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ *
"Ya Rasulullah apakah kami akan terkena dampak fitnah musibah sedangkan kami orang-orang sholeh? Dijawab oleh Nabi: "Benar apabila ditemui banyak kemaksiatan".
Imam Al Qurthubi berkata: "Menurut ulama kami, jika fitnah telah beraksi maka rusak semuanya."
إذا انزل الله بقوم عذابا اصاب العذاب من كان فيهم ثم بعثوا على أعمالهم
"Jika Allah turunkan adzab, maka ia akan menimpa siapa saja kemudian Allah membangkitkan mereka berdasakan amal perbuatannya." Menurut penjelasanya, hadits ini menunjukkan bahwa kerusakan akan menimpa secara umum; bagi orang sholeh, tholih (rusak) dan orang dhlim. Namun ia merupakan pembersih bagi orang mukmin/shalih (tuhrotan lilmu'minin) dan merupakan balasan (nuqmatan) bagi orang fasiq.
Karena itu mari semuanya dikembalikan kepada Allah: Innalilahi wainna ilaihi raji'uun. Sesunggunya semuanya berasal dari Allah dan hendaklah dikembalikan kepada-Nya. Alam ini milik-Nya seyogyanya, mari kita rawat bumi dan segala isinya untuk rakhmatan lil 'alamin. Jangan sampai memancing tentara Allah menjadi marah.
Wallahu 'alam.
Sumber:
Al Qur'an Depag RI, Tafsir Jalalen, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Kutubussittah, Al Bayan Hadits Shoheh.
Catatn Penulis: Diizinkan mengutip, menyadur, menyalin, menyebar luaskan tulisan ini untuk tujuan apapun. Namun mohon dikoreksi terlebih dahulu, dengan teliti sebab bisa jadi terdapat banyak kesalahan: salah tulis, salah kutip, salah kesimpulan, salah menyadur juga bisa jadi banyak perbedaan pendapat karena keterbatasan pengetahuan penulis.
Antara Kita dengan Rezeki ada Tabir
بسم الله الرحمن الرحيم أولئك لهم رزق معلوم
Artinya: Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu (Ashoffat: 41)
Sebagai orang yang beragama, memahami rezeki yang hadir di tangan kita tidaklah semata-mata melalui upaya diri dan manajemen. Al Ghozali berkata, betapa banyak orang yang tidak memahami manajemen, beker¬ja sedikit namun rezekinya melimpah, di sisi lain, orang yang "nyungsang-nyungseb" mencari rezeki siang dan malam, tetapi kadang rezeki itu terasa seret sekali. Apakah kemudian rezeki itu berada dalam manajemen kita? Ternyata tidak! Ia ada dalam manajemen Allah swt. Allahlah yang bertanggung jawab terhadap rezeki makhluqnya, sedangkan manusia hanya melulu 'beribadah' yang diaplikasikan ibadahanya baik ketika berikh¬tiar, memohon, berharap dan berusaha sekuat tenaga lillaahi ta'aala dalam ikhtiarnya. Sampai di sini, ketika usaha dan ikhtiar telah maksimal, apapun hasilnya merupakan tanggung jawab Allah swt.
Namun demikian sekelumit ilmu yang diajarkan Rasulullah saw ternyata sangat bermanfaat. Barangsiapa yang memahami misteri itu, niscaya bisa bersikap qonaah dan Tenang. Kemudian rezeki akan hadir tanpa diduga-duga, tanpa dipusingkan dan tanpa membawa resah dan gelisah. Sebuah riwayat hadits yang ditulis dalam buku Adabudunya Waddin (etika kehidupan dan beragama) Rasulullah saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من عبد الا بينه وبين رزقه حجاب فان قنع واقتصَد اتاه رزقه وإن هتك الحجابُ لم يزدْ فى رزقه
Rasulullah saw bersabda: "Antara seorang hamba dan rezeki terdapat sebuah tabir (hijab); barangsiapa yang bersikap terhadap rezeki itu menerima de¬ngan tulus ikhlas (qona'ah) dan bersikap tenang-tenang saja (iqtishad) maka rezeki itu akan datang dengan sendirinya; sedangkan siapa yang mencoba untuk merusak tabir rezeki itu maka jangan harap bertambah."
Hadits ini menerangkan tentang tabir (hijab) rezeki. Sehingga benarlah bahwa rezeki itu merupa¬kan misteri sebab ia memiliki pembatas antara kita dengannya. Kita dilarang coba-coba merobek tirai tersebut. Adapun upaya memper¬kokh tirai rezeki itu dengan dua cara: Qonaah dan Iqtishod.
Pertama, dengan qonaahSebagaimana hadits di atas, menerima rezeki dengan qonaah sama artinya dengan menerima apa adanya rezeki yang hadir dengan penuh keikhlasan dan suka cita. Ketika mendapatkan rezeki besar atau sedikit disambut dengan sikap amat amat girang. Namun kegirangan ini hanya ditampakkan di sisi Allah swt tidak kepada manusia. Inilah yang disebut oleh Syekh Nawawi dengan qona'ah. Qona'ah sendiri sama dengan sikap kafafah. Kedua sifat ini merupakan sikap yang paling baik.
Rasulullah saw bersabda:
عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال قد أفلح من أسلم ورزق كفافا وقنعه الله بما آتاه - من صحيح مسلم 1746
Dari Abdulalh bin 'Amr bin 'ash bahwa Rasulullah saw. Bersabda: "Sungguh beruntung orang yang selamat. Ia diberi rizki dengan berkecukupan dan Allah merelakan apa yang diterimanya.
Ketika mensyarakhi (memperjelas) hadits ini, Syekh Nawawi mengartikan kafafah atau qona'ah dengan ungkapan:
الكفاف : الكفاية بلا زيادة ولا نقص . وفيه فضيلة هذه الأوصاف , وقد يحتج به لمذهب من يقول : الكفاف أفضل من الفقر ومن الغنى .
Kaffaf adalah sikap merasa cukup dengan rezkinya tanpa menuntut lebih dan kurang. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian madzhab: Sikap merasa cukup ini lebih utama dari pada kondisi orang yang kaya atau miskin.
Kedua dengan iqtishodCara kedua menjaga agar tirai tetap kokoh adalah dengan sikap iqtishod. Maknanya adalah ia akan berada di pertengahan. Murunut Al Hasan dalam tafsir al Qurthubi, Muqtasid adalah orang mukmin yang tetap kokoh memegang tauhid dan taat. Artinya, boleh jadi, dalam menyikapi rezeki tidak akan mengurangi nilai taat dan keimanannya. Dengan demikian ia akan tenang-tenang saja dalam menyikapi rezeki tersebut. Jika sempit atau lapang rezeki, ia te¬nang-tenang saja tidak mengadukannya kepada manusia. Sebab bila coba-coba membe¬ber¬kan kesu¬sahan¬nya pada manusia itu berarti merobek dinding rezeki. Sebagaimana peringatan Rasulullah saw siapa yang membuka kesusahan kepada Allah artinya ia siap untuk tetap fakir. (dikutip dari hadits no. 2247 Sunan Turmudzi)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: .... ولافتح عبد باب مسئلة إلا فتح الله عليه باب فقر أو كلمة نحوها
Bersabda Rasulullah saw: ….. dan janganlah seorang hamba Allah membuka pintu masalah kepada orang lain (tentang kesusahannya) sebab niscaya Allah akan membuka pintu kemiskinan atau kalimat yang sejenisnya (kesusahan, kesulitan, kerupekan, kedholiman dll.). Menurut Abu Isa, hadits ini hasan shoheh.
Dengan membuka masalah kepada orang lain, berarti ia berusaha merobek dan merusak tirai (hijab) rezeki tersebut). Karena itu sikap terbaik adalah mempertahankan sikap iqtishad. Untuk melatih sikap iqtishod ini ada baiknya mengikuti saran Rasulullah saw:
قوله صلى الله عليه وسلم : انظروا إلى من هو أسفل منكم , ولا تنظروا إلى من هو فوقكم , فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم
"Lihatlah kepada orang yang lebih menderita dan jangan melihat orang yang lebih makmur dari mu. Sebab hal itu merupakan sifat yang terbaik agar jangan sampai memandang rendah ni'mat Allah swt."
Menurut Ibnu Jarir dalam Syarkh An Nawawi, hadits tersebut adalah kesimpulan yang terbaik. Sebab tabiat manusia dalam urusan dunia, apa¬bi¬la melihat orang yang lebih makmur darinya, ia akan berusaha menyamainya. Kemu¬dian meng¬anggap rendah nikmat Allah swt. yang ada pada dirinya. Karenanya, ia akan berusaha lebih rakus lagi (tamak) untuk menyamai saingannya atau setidaknya tidak jauh-jauh amat bedanya. Menurut Syekh Nawawi, itulah tabiat manusia pada umumnya.
Sebaliknya, kata Syekh Nawawi, dalam urusan dunia, jika melihat orang lain memperoleh kenikmatan, maka yang terlihat adalah karunia Allah yang besar. Ia lalu menysukurinya, kemu¬dian tetap bertawadlu dan tetap berlaku baik. Kata An Nawawi, sikap inilah yang utama dalam menyikapi rezeki.
Sebaik UmatAdapun sebaik-baik Umat dalam menyikapi masalah rezeki adalah sebagaimana yang digambarkan oleh Rasululah saw. Menjadi orang yang menerima (rela) jika tidak diberi dan menjadi orang yang meminta jika tak berpunya. Dikutip dari buku "adabuddunya waddin" Rasululullah saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير امتي الذين لم يعطوا حتى يبطروا ولم يقتروا حتى يسئلوا
"Sebaik-baik umatku adalah orang yang tidak diberi lalu dia menerima dan tidak berpunya kemudian ia meminta."
Mengambil Deposito Amal Yang dimaksud sikap menerima dan meminta dalam hadits tersebut adalah ditujukan kepada Allah swt semata. Sikap meminta kepada Allah jelas merupakan perintah langsung dari Allah swt: Ud'uunii astajib lakum "Memohonlah kepada-Ku niscaya Aku beri" (Al Mukmin 60). Namun yang menjadi catatan di sini adalah bahwa orang tidak akan salah alamat ketika meminta kepada Allah manakala ia banyak menabung amal-amal perbuatanya pada rekening Allah Subhanahu Wata'ala. Namun jika menabung amal-amalnya bukan kepada Allah mengapa meminta kepada-Nya inikan aneh bin ajaib. Logikanya, hal ini sama bila depositonya di Bank BCA, tetapi ketika mengambil, memintanya pada Bank BNI tentu ini salah alamat.
Hal ini sama artinya, jika segala amal-amalnya baik ucapan, pikiran dan tindakan. Pokoknya segala ibadah mahdhoh (amal vertikal) maupun ghoiru mahdzhoh (amal horizontal) diniatkan semata-mata untuk Allah (lillaahi ta'alaa), niscaya ketika hendak meminta bagian (bunga deposito amal) itu kepada Allah yakin pasti tidak salah alamat. Namun jika bukan lillaahi ta'alaa, mengapa memintanya kepada Allah? Seolah-olah Allah menyuruh untuk mengambilnya kepada yang lain. Karenanya, berarti siap-siap ia tidak menerima bonus spesial dari Allah swt, baik ketika di dunia maupun di akherat. Na'udzu billahi min dzaalik. Wallau a'lam bimurodih.
Jakarta, 20 Muharrom, 1428 [7 Februari 2007]
Sumber: Al qur'an , Al Bayan (Hadits), Tafsir Al Qurthubi, Adabudunya Waddin, Kutubussittah, Tuhfatul Akhwadzi bisyarhil bukhory, Shohih Muslim bisyarkhinnawawy.
Makanan Rohani Sama dengan Makanan Jasmani
كلو واشربوا من رزق الله
Artinya: "Makan dan minumlah kalian, dari rizki Allah "(Al Qur'an)
Bersyukur kepada Allah swt atas kehebatan-Nya membuat sistem pencernaan makanan di tubuh kita sehingga tidak semua makanan yang masuk menjadi daging dan darah. Bayangkan jika semua makanan yang masuk ke perut menjadi daging semuanya tanpa ada sisa-sisa makanan yang diurai oleh usus dan dibuang, niscaya pertumbuhan badan manusia tidak terkendali; disamping ukuran tidak terkendali, tidak ada lagi siklus makanan. Singkatnya, setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, yang terpakai hanya sedikit sekali sedangkan yang terbuang sangat banyak.
Siklus tersebut berlaku pada sistem pertumbuhan dan perkembangan rohani. Dalam rohani pun mirip dengan tubuh jasmani: Ia membutuhkan makanan dan minuman; Nutrisi yang masuk tidak semuanya berguna bagi pertumbuhan rohani sehat; Sehingga meskipun banyak mengkonsumsi makanan rohani yang terbuang pun juga banyak, dan yang terpakai pun amat sedikit. Maka bagaimana cara menkonsumi makanan rohani agar terjaga keseimbangannya. Salah satu caranya adalah kita mesti meniru cara makan ala jasmani: makan setiap hari jangan sampai absen; di luar itu, minum yang banyak dan sisanya biasanya ngemil dll.
Dari pengertian di atas, maka surat Al Baqarah: "Makan dan minumlah," pada kutipan ayat tersebut, bukan saja berlaku untuk makanan jasmani saja, sebab al Qur'an menembus dua dimensi; jasmani dan rohani. Namun sayangnya, dimensi rohani ini jarang disinggung.
Dzikir sebagai Nutrisi RohaniDzikir adalah jenis makanan (nutrisi) yang banyak mengan¬dung gizi bagi perkembangan rohani. Boleh jadi membangun kesehatan rohani dengan berdzikir adalah cara yang tepat. Makanan rohani berupa dzikir ini mesti dikonsumsi sebanyak-banyaknya; semakin banyak mengkonsumsi dzikir dan dapat diserap oleh rohani maka sema¬kin sehat pertum¬buhan rohani itu sendiri.
Adapun berdzikir yang banyak merupakan perintah langsung Allah swt :
يَآأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اذْكُرُوااللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَّسَبِّحُواهُ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah di waktu pagi dan petang."
Di dalam Alqur'an perintah berdzikir bebeda dengan perin¬tah beramal. Ketika Allah menyuruh hambanya untuk ber¬dzikir diharuskan dilaksanakan sebanyak-banyaknya seperti ayat tersebut. Namun untuk amal perintahnya meng¬gunakan ungkapan "ahsanu 'amala" bukan "aktsaru 'amala". Mak¬sdnya adalah beramallah dengan sebaik-baiknya bukan dengan perintah beramllah dengan sebanyak-banyaknya. Jadi cukup jelas firman Allah tentang dzikir ini mesti dilaksanakan sebanyak-banyaknya.
Ringan di Lidah Mengapa dzikir dan tasbih itu dianggap penting padahal kelihatannya mudah dilafalkan dengan lidah namun ternyata Allah sangat menganjurkan hambanya untuk berdzikir. Salah satu contoh tentang lafadz yang mudah diuucapkan dan bernilai tinggi adalah lafadz riwayat Abi hurairah dalam kitab Sunan Bukhori, Rasulullah saw bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيْبَتَانِ اِلىَ الرَّحْمَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلى اللِّيْسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فىِ الْمِيْزَانِ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Artinya: "Ada dua kalimat yang mudah diuucapkan dengan lidah tapi menjadi berat di timbangan amal dan dicintai oleh Allah yaitu lafad subhaanallaah wabiha¬mdihii subhanallaahil 'adziim.
Kalilmat tasbih yang diajarkan Rasulullah saw begitu bernilai di sisi Allah meskipun hanya diucapkan di lidah, dan tasbih tersebut termasuk dzikir kepada Alla swt.
Adapun kaitannya dengan makanan rohani sungguh tepat dzikir ini mesti dikonsumsi dengan sebanyak-banyaknya tanpa hitungan. Karena itu tidak heran para pengamal thariqat apapun nammanya, hobi sekali mengonsuumsi dzikir. Sebab ia dianggap makanan rohani yang halalal thoyyiiban, baik ia memakannya melalui ternag-terangan (dzikir dhazar) maupun makan sembunyi-sembunyi (dzikir khafi).
Sebab ia mengetahui mengapa dzikir harus bannyak, karena belajar dari makanan fisik, tidak semmuanya diserap tubuh, maka dzikirpun dilakukn dengana lahap sekali. Karena tidak semua dzikir ini dapat bermanfaat bagi perkembangan rohani. Jadi sama persis seperti makan nasi, dzikir bagi rohani juga makanan pokok. Ia harus dikonsumsi terus-menerus tanpa melihat waktu dan situasi, selama nafas masih ada maka dzikir selayaknya harus dikonsumsi.
Harus LahapOrang yang lapar, biasanya jika menemukan makanan yang siap disantap, dapat dibayangkan orang itu akan lahap sekali. Selayaknya, dalam mengkonsumsi dzikir pun sebagai makanan rohani mesti harus lahap karena hakekatnya kita membutuhkan dzikir untuk makanan rohani.
Di samping harus lahap, cara makannya pun dapat dimasukkan melalui apa saja. Jika makan nasi hanya dengan lidah di mulut, maka mengkonsumsi makanan rohani dari sekujur badan dapat dimasuki: Mulai dari mata bagaimana memasukan makanan rohani melalui mata; dari telinga, bagaimana mendengar sehingga menjadi menu makanan segar bagi pertumbuhan rohani; dari mulut, bagaimana mengunyah makanan rohani sehingga lezat dinikmati; Dari tangan dan kaki, bagaimana sebaiknya berjalan dan bergerak sehingga mendatangkan hikmah bagi rohani. Semua itu sudah jelas shari'at mengaturnya. Tinggal bagaimana kesadaran kita di dalam menghadapi menu makanan tersebut.
Rohani Sehat dan KuatBerbeda dengan makanan jasmani, makanan rohani tidak perlu diolah dan dimasak karena langsung bisa dinikmati kapan dan dimana pun berada. Memakannya tidak boleh lepas dalam hitungan detik. Jika hampir dalam setiap detik tidak lepas dari dzikir kepada Allah maka itulah ciri-ciri orang benar-benar taqarub kepada Allah.
Pantaslah para sufi, orang-orang shlihin, para zahidin mereka adalah orang-orang yang sehat dan kuat rohaninya. Sebab mereka sangat kenyang dengan makanan dan minuman rohani. Mereka tidak pernah mubadzir dalam hidup sebab konsep mubadzir bagi mereka bukan membuang makanan seperti kita, tapi mereka berkata mubazir adalah “melewati waktu tanpa ingat kepada Allah”. Bagi mereka pencernaannyatelah terlatih dengan tajam. Hingga tidak heran, mereka yang sehat, rohaninya, matanya mampu melihat yang tak terlihat, telinganya mampu mendengar yang tak terdengar oleh orang awam. Bahkan dalam kitab Bidayatul Hidayah Allah berfirman melalui hadits qudsi bahwa jika Allah sudah mencintai seorang hamba niscaya Allah melihat melalui mata hamba tersebut, memegang melalui tangannya, mendengar melalui telinganya, dan berjalan melalui kakinya. Subhanallah!
Di antara mereka juga adalah para Wali Allah. Dengan rohaninya yang sehat dan kuat, mereka mampu menembus alam malakut sehingga sifat-sifatnya meniru para malaikat. Ssalah satu sifatnya adalah seperti Firman Allah:
Artinya: "Mereka tidak bermksiat kepada Allah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintah-Nya.". Wallahu a'lam.
>>>>> dari berbagai sumber
Artinya: "Makan dan minumlah kalian, dari rizki Allah "(Al Qur'an)
Bersyukur kepada Allah swt atas kehebatan-Nya membuat sistem pencernaan makanan di tubuh kita sehingga tidak semua makanan yang masuk menjadi daging dan darah. Bayangkan jika semua makanan yang masuk ke perut menjadi daging semuanya tanpa ada sisa-sisa makanan yang diurai oleh usus dan dibuang, niscaya pertumbuhan badan manusia tidak terkendali; disamping ukuran tidak terkendali, tidak ada lagi siklus makanan. Singkatnya, setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, yang terpakai hanya sedikit sekali sedangkan yang terbuang sangat banyak.
Siklus tersebut berlaku pada sistem pertumbuhan dan perkembangan rohani. Dalam rohani pun mirip dengan tubuh jasmani: Ia membutuhkan makanan dan minuman; Nutrisi yang masuk tidak semuanya berguna bagi pertumbuhan rohani sehat; Sehingga meskipun banyak mengkonsumsi makanan rohani yang terbuang pun juga banyak, dan yang terpakai pun amat sedikit. Maka bagaimana cara menkonsumi makanan rohani agar terjaga keseimbangannya. Salah satu caranya adalah kita mesti meniru cara makan ala jasmani: makan setiap hari jangan sampai absen; di luar itu, minum yang banyak dan sisanya biasanya ngemil dll.
Dari pengertian di atas, maka surat Al Baqarah: "Makan dan minumlah," pada kutipan ayat tersebut, bukan saja berlaku untuk makanan jasmani saja, sebab al Qur'an menembus dua dimensi; jasmani dan rohani. Namun sayangnya, dimensi rohani ini jarang disinggung.
Dzikir sebagai Nutrisi RohaniDzikir adalah jenis makanan (nutrisi) yang banyak mengan¬dung gizi bagi perkembangan rohani. Boleh jadi membangun kesehatan rohani dengan berdzikir adalah cara yang tepat. Makanan rohani berupa dzikir ini mesti dikonsumsi sebanyak-banyaknya; semakin banyak mengkonsumsi dzikir dan dapat diserap oleh rohani maka sema¬kin sehat pertum¬buhan rohani itu sendiri.
Adapun berdzikir yang banyak merupakan perintah langsung Allah swt :
يَآأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اذْكُرُوااللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَّسَبِّحُواهُ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah di waktu pagi dan petang."
Di dalam Alqur'an perintah berdzikir bebeda dengan perin¬tah beramal. Ketika Allah menyuruh hambanya untuk ber¬dzikir diharuskan dilaksanakan sebanyak-banyaknya seperti ayat tersebut. Namun untuk amal perintahnya meng¬gunakan ungkapan "ahsanu 'amala" bukan "aktsaru 'amala". Mak¬sdnya adalah beramallah dengan sebaik-baiknya bukan dengan perintah beramllah dengan sebanyak-banyaknya. Jadi cukup jelas firman Allah tentang dzikir ini mesti dilaksanakan sebanyak-banyaknya.
Ringan di Lidah Mengapa dzikir dan tasbih itu dianggap penting padahal kelihatannya mudah dilafalkan dengan lidah namun ternyata Allah sangat menganjurkan hambanya untuk berdzikir. Salah satu contoh tentang lafadz yang mudah diuucapkan dan bernilai tinggi adalah lafadz riwayat Abi hurairah dalam kitab Sunan Bukhori, Rasulullah saw bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيْبَتَانِ اِلىَ الرَّحْمَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلى اللِّيْسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فىِ الْمِيْزَانِ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Artinya: "Ada dua kalimat yang mudah diuucapkan dengan lidah tapi menjadi berat di timbangan amal dan dicintai oleh Allah yaitu lafad subhaanallaah wabiha¬mdihii subhanallaahil 'adziim.
Kalilmat tasbih yang diajarkan Rasulullah saw begitu bernilai di sisi Allah meskipun hanya diucapkan di lidah, dan tasbih tersebut termasuk dzikir kepada Alla swt.
Adapun kaitannya dengan makanan rohani sungguh tepat dzikir ini mesti dikonsumsi dengan sebanyak-banyaknya tanpa hitungan. Karena itu tidak heran para pengamal thariqat apapun nammanya, hobi sekali mengonsuumsi dzikir. Sebab ia dianggap makanan rohani yang halalal thoyyiiban, baik ia memakannya melalui ternag-terangan (dzikir dhazar) maupun makan sembunyi-sembunyi (dzikir khafi).
Sebab ia mengetahui mengapa dzikir harus bannyak, karena belajar dari makanan fisik, tidak semmuanya diserap tubuh, maka dzikirpun dilakukn dengana lahap sekali. Karena tidak semua dzikir ini dapat bermanfaat bagi perkembangan rohani. Jadi sama persis seperti makan nasi, dzikir bagi rohani juga makanan pokok. Ia harus dikonsumsi terus-menerus tanpa melihat waktu dan situasi, selama nafas masih ada maka dzikir selayaknya harus dikonsumsi.
Harus LahapOrang yang lapar, biasanya jika menemukan makanan yang siap disantap, dapat dibayangkan orang itu akan lahap sekali. Selayaknya, dalam mengkonsumsi dzikir pun sebagai makanan rohani mesti harus lahap karena hakekatnya kita membutuhkan dzikir untuk makanan rohani.
Di samping harus lahap, cara makannya pun dapat dimasukkan melalui apa saja. Jika makan nasi hanya dengan lidah di mulut, maka mengkonsumsi makanan rohani dari sekujur badan dapat dimasuki: Mulai dari mata bagaimana memasukan makanan rohani melalui mata; dari telinga, bagaimana mendengar sehingga menjadi menu makanan segar bagi pertumbuhan rohani; dari mulut, bagaimana mengunyah makanan rohani sehingga lezat dinikmati; Dari tangan dan kaki, bagaimana sebaiknya berjalan dan bergerak sehingga mendatangkan hikmah bagi rohani. Semua itu sudah jelas shari'at mengaturnya. Tinggal bagaimana kesadaran kita di dalam menghadapi menu makanan tersebut.
Rohani Sehat dan KuatBerbeda dengan makanan jasmani, makanan rohani tidak perlu diolah dan dimasak karena langsung bisa dinikmati kapan dan dimana pun berada. Memakannya tidak boleh lepas dalam hitungan detik. Jika hampir dalam setiap detik tidak lepas dari dzikir kepada Allah maka itulah ciri-ciri orang benar-benar taqarub kepada Allah.
Pantaslah para sufi, orang-orang shlihin, para zahidin mereka adalah orang-orang yang sehat dan kuat rohaninya. Sebab mereka sangat kenyang dengan makanan dan minuman rohani. Mereka tidak pernah mubadzir dalam hidup sebab konsep mubadzir bagi mereka bukan membuang makanan seperti kita, tapi mereka berkata mubazir adalah “melewati waktu tanpa ingat kepada Allah”. Bagi mereka pencernaannyatelah terlatih dengan tajam. Hingga tidak heran, mereka yang sehat, rohaninya, matanya mampu melihat yang tak terlihat, telinganya mampu mendengar yang tak terdengar oleh orang awam. Bahkan dalam kitab Bidayatul Hidayah Allah berfirman melalui hadits qudsi bahwa jika Allah sudah mencintai seorang hamba niscaya Allah melihat melalui mata hamba tersebut, memegang melalui tangannya, mendengar melalui telinganya, dan berjalan melalui kakinya. Subhanallah!
Di antara mereka juga adalah para Wali Allah. Dengan rohaninya yang sehat dan kuat, mereka mampu menembus alam malakut sehingga sifat-sifatnya meniru para malaikat. Ssalah satu sifatnya adalah seperti Firman Allah:
Artinya: "Mereka tidak bermksiat kepada Allah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintah-Nya.". Wallahu a'lam.
>>>>> dari berbagai sumber
24 January 2007
Belajar dari Gergaji Tumpul
Refleksi untuk Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas diri
Ambillah i'tibar wahai ulil absor... tidaklah
Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Al Hasyr:2) Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). ( Al Baqarah: 269)
Karunia ketajaman akal yang diberikan kepada manusia. Sehingga Allah memberikan ilham dan pengetahuan kepada mereka yang dikehendakiNya. Salah contoh adalah hasil renungan seorang ulama yang memperhatikan bagaimana orang yang menggergaji sebuah kayu namun karena gergajinya tumpul sehingga tidak kayu itu tidak mampu dipotong namun masih terus saja orang-orang tidak putus asa menggergajinya. Dari renungan ini kemudian dapat diambil hikmah yang mendalam.
Model kita ketika memahami ayat diatas yang artinya: “Ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Al Hasyr:2) boleh jadi merupakan perintah berpikir, merenung dan berkontemplasi terhadap kejadian-kejadian di sekitar kita. Sehingga setiap kejadian merupakan pelajaran yang akan masuk ke pintu ilmu di dalam hati.
Gergaji Tumpul
Salah satu contoh berpikir adalah seperti ketika kita melihat orang menggergaji kayu. Mestinya tahu, bahwa dengan besarnya kayu yang sedang digergaji dan kemampuan gergaji yang tengah dipakai, kekuatan orangnya bisa diprediksi waktu yang diperlukan paling lama 2 jam selesai, tetapi kenapa hingga 10 jam tidak selesai-selesai.
Kita bisa bertanya kepada orang yang tengah menggergaji: “Kenapa sih mang, ‘gak’ kelar-kelar?” “Gergajinya tumpul!” jawabnya. “Coba kalau istirahat dulu, gergajinya diasah paling ½ jam, mulai lagi pasti selesai dengan bagus dan cepat.”
Mengasah Gergaji Jiwa
Gergaji pisik yang digambarkan tadi, hampir mirip dengan kemampuan gergaji jiwa yang kita miliki. Sebab tidak beda jiwa yang tajam akan mampu mengatasi masalah “kayu-kayu gelondongan” yang berserakan di sekitar kita. Kayu gelondongan itu bisa saja masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah hubungan sosial. Semuanya itu mesti harus dihadapi dengan ketajaman hati, sehingga hasilnya akan bermanfaat sebagaimana kayu gelondongan yang sudah digergaji, hasilnya bisa menjadi papan dan kaso. Tentu bermanfaat untuk jendela, pintu dan lain-lain.
Agar gergaji jiwa bisa tajam dalam menghadapi masalah problem yang berserakan dimana-mana, maka sering-seringlah kita mengasah gergaji jiwa. Janganlah waktunya dihabiskan untuk berpusing-pusing, sepertinya jalan di tempat. Karena urusan dunia itu sifatnya jalan di tempat tidak kemana-mana. Karena itu bagaimana mengasah gergaji setidaknya ada 4 dimensi agar gergaji itu bisa tajam dan berdaya guna efektif:
Pertama: Dimensi Pisik
Gerinda apa yang diperlukan untuk mengasah jiwa ini? Jawabnya adalah dengan memperbanyak shalat karena otot-otot yang ada di dalam tubuh memerlukan kekuatan dan pisik memerlukan tasbih. Karenanya jangan tinggalkan shalat tasbih setiap hari.
Atau dengan cara mengikuti cara Habib Lutfi dimana beliau membiasakan shalat ibarat olahraga tanpa hitungna rakaat. Karenanya, biasakan saja sering-sering mengeluarkan keringat seperti di ruangan sendiri, di kamar, di masjid, di mushola. Kebiasaan ini merupakan dimensi psikis. Itu saja dulu dibiasakan:
العقــل السـليم فى جسم الســليم
Artinya: “Akal yang saliim terdapat di dalam jiwa yang saliim.”
Saliim biasanya diartikan sehat. Jadi jiwa sehat lahirnya dari tubuh yang sehat. Sepertinya, jika sehat diciptakan dari shalat tentu lebih baik dari gerakan olahraga lainnya. Karena itu tidak salah, jika lari-lari pagi atau sore diganti dengan shalat. Orang-orang aliim yang penulis kenal sudah mempraktekkan teori ini misalnya: Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan), Buya Dimyati Banten (alm), KH. Mufassir (Banten), dan KH. Hamid (Ps. Minggu). Jumlahnya bisa 100 rakaat atau lebih. Dari pengalaman pribadi guru kita, Ust. H. Abu Bakar, seringkali berganti kaos hingga tiga kali karena banyaknya keringat yang keluar dari tubuh, jika shalat malam.
Tulang Bisa Kuat
Ketika masih sehat, hidup kita masih ditopang oleh tulang, bagaimana nanti jika tulang keropos siapa yang menopang. Niscaya akan bongkok, lemah lunglai, bagaimana penanggulangannya yaitu dengan cara memperbanyak shalat. Apa saja shalatnya bebas. Thariqah memiliki dzikir tertentu tapi syariah mengajarkan agar memperbanyak shalat. Inni merupakan aplikasi dari mengikuti thariqah. Karena itu mengikuti thariqah adalah dengan cara memperbanyak praktik daripada dzikir. Sperti shalat misalnya.
Kedua : Dimensi Mental
Mental sesorang terbentuk oleh pendidikan formal, begitu sudah selesai sekolah, mentang-mentang tidak ada ujian, tidak pernah baca, tidak pernah dengar, akhirnya merasa benar sendiri. Karena itu mental seperti ini perlu dirubah yaitu dengan cara sering mendengar, membaca, bertanya. Inilah cara mengasahnya.
Jadi jangan banyak waktu dipergunakan untuk melamun apalagi menghayal, melainkan pergunakan mental kita agar lebih tajam sehingga jiwapun ikut tajam, hatipun ikut tajam. Jika sudah tajam maka dimensi mental selalu-siap-setiap-saat. Jika dimensi mental ini dimiliki dan dipergunakan maka akan terasa kesegaran hidupnya, buktikan! Bukan saja ilmunya bertambah, amalnya pun ikut bertambah dan yang menarik banyak hal-hal baru didapat. Karena itu dimensi mental ini perlu diasah. Jangan sampai dimensi mental ini berhenti meskipun tidak ada ujian.. Sebagaimana ungkapan hikmah berikut:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّحْدِ
Artinya: ”Tuntutlah ilmu semenjak buaian hingga ke liang lahat.”
Karena menunut ilmu tidak boleh berhenti hingga ke kubur, Rasulullah saw mewajibkan setiap muslim. Ini adalah dimensi mental yang mesti dilaksanakan oleh setiap mulsim. Jadi jika hidupnya lebih bermakna maka asahlah dimensi mental melalui belajar!
Ketiga: Dimensi Spiritual
Dimensi ini paling penting. Karena nilai manusia, fokus manusia, dan nilai hidupnya adanya di dalam spiritual; Makna spiritual ini bisa diperoleh manakala kita bisa merasakan bagaimana shalat yang nikmat; bagaimana dzikir yang nikmat. Justeru itu akan terbentuk jika kita pandai mengasahnya. Setiap manusia berpotensi untuk menjalankannya, dan hasilnya pun berbeda-beda biasanya disebut dengan pengalaman spiritual.
Dalam kitab Al Hikam diceritakan ada orang yang merasakan nikmatnya shalat setelah mengerjakan selama 20 tahun, ada yang membaca Al Qur’an merasakan nikmatnya setelah mendawamkan selama 15 tahun. Jadi, dimensi spiritual ini akan tercipta dengan sendirinya manakala beristiqamah dan bersabar.
Keempat: Dimensi Sosial Emosi
Manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat mestinya mengerti dan menyadari hidup. Silahkan ikut arus tapi harus mampu dan ikut berenang. Sebab zaman sekarang tidak kuat melawan arus; Sama persis dengan arus gelombang laut yang tidak menentu: kadang besar, kadang kencang bahkan menjadi tsunami. Agar jangan sampai menjadi korban arus laut, segera menepi dengan cara berenang. Celakalah mereka yang tidak bisa berenang. Cara berenangnya menggunakan Baju Taat seperti nasehat Luqmanul Hakim pada puteranya:
المــــلح الطــــــا عات
Artinya: Baju renangnya adalah taat!
Arus deras kini sudah masuk ke ruangan kita dan telah menjadi kebiasaan keseharian. Ahirnya tidak heran, ketika anak dilarang nonton TV ia akan lari ke tetangga. Jadi kita mesti berpacu dengan dajjal-dajjal yang masuk ke ruangan kita. Akhirnya kita mesti mengerti bagaimana cara hidup dan harus belajar terus-menerus bagaimana cara berenang.
Wallahu A’lam (MK)
بسم الله الرحمن الرحيم فاعتبروا ياأولى الأبصار. وما يكر إلا أولوالألباب
Ambillah i'tibar wahai ulil absor... tidaklah
Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Al Hasyr:2) Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). ( Al Baqarah: 269)
Karunia ketajaman akal yang diberikan kepada manusia. Sehingga Allah memberikan ilham dan pengetahuan kepada mereka yang dikehendakiNya. Salah contoh adalah hasil renungan seorang ulama yang memperhatikan bagaimana orang yang menggergaji sebuah kayu namun karena gergajinya tumpul sehingga tidak kayu itu tidak mampu dipotong namun masih terus saja orang-orang tidak putus asa menggergajinya. Dari renungan ini kemudian dapat diambil hikmah yang mendalam.
Model kita ketika memahami ayat diatas yang artinya: “Ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Al Hasyr:2) boleh jadi merupakan perintah berpikir, merenung dan berkontemplasi terhadap kejadian-kejadian di sekitar kita. Sehingga setiap kejadian merupakan pelajaran yang akan masuk ke pintu ilmu di dalam hati.
Gergaji Tumpul
Salah satu contoh berpikir adalah seperti ketika kita melihat orang menggergaji kayu. Mestinya tahu, bahwa dengan besarnya kayu yang sedang digergaji dan kemampuan gergaji yang tengah dipakai, kekuatan orangnya bisa diprediksi waktu yang diperlukan paling lama 2 jam selesai, tetapi kenapa hingga 10 jam tidak selesai-selesai.
Kita bisa bertanya kepada orang yang tengah menggergaji: “Kenapa sih mang, ‘gak’ kelar-kelar?” “Gergajinya tumpul!” jawabnya. “Coba kalau istirahat dulu, gergajinya diasah paling ½ jam, mulai lagi pasti selesai dengan bagus dan cepat.”
Mengasah Gergaji Jiwa
Gergaji pisik yang digambarkan tadi, hampir mirip dengan kemampuan gergaji jiwa yang kita miliki. Sebab tidak beda jiwa yang tajam akan mampu mengatasi masalah “kayu-kayu gelondongan” yang berserakan di sekitar kita. Kayu gelondongan itu bisa saja masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah hubungan sosial. Semuanya itu mesti harus dihadapi dengan ketajaman hati, sehingga hasilnya akan bermanfaat sebagaimana kayu gelondongan yang sudah digergaji, hasilnya bisa menjadi papan dan kaso. Tentu bermanfaat untuk jendela, pintu dan lain-lain.
Agar gergaji jiwa bisa tajam dalam menghadapi masalah problem yang berserakan dimana-mana, maka sering-seringlah kita mengasah gergaji jiwa. Janganlah waktunya dihabiskan untuk berpusing-pusing, sepertinya jalan di tempat. Karena urusan dunia itu sifatnya jalan di tempat tidak kemana-mana. Karena itu bagaimana mengasah gergaji setidaknya ada 4 dimensi agar gergaji itu bisa tajam dan berdaya guna efektif:
Pertama: Dimensi Pisik
Gerinda apa yang diperlukan untuk mengasah jiwa ini? Jawabnya adalah dengan memperbanyak shalat karena otot-otot yang ada di dalam tubuh memerlukan kekuatan dan pisik memerlukan tasbih. Karenanya jangan tinggalkan shalat tasbih setiap hari.
Atau dengan cara mengikuti cara Habib Lutfi dimana beliau membiasakan shalat ibarat olahraga tanpa hitungna rakaat. Karenanya, biasakan saja sering-sering mengeluarkan keringat seperti di ruangan sendiri, di kamar, di masjid, di mushola. Kebiasaan ini merupakan dimensi psikis. Itu saja dulu dibiasakan:
العقــل السـليم فى جسم الســليم
Artinya: “Akal yang saliim terdapat di dalam jiwa yang saliim.”
Saliim biasanya diartikan sehat. Jadi jiwa sehat lahirnya dari tubuh yang sehat. Sepertinya, jika sehat diciptakan dari shalat tentu lebih baik dari gerakan olahraga lainnya. Karena itu tidak salah, jika lari-lari pagi atau sore diganti dengan shalat. Orang-orang aliim yang penulis kenal sudah mempraktekkan teori ini misalnya: Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan), Buya Dimyati Banten (alm), KH. Mufassir (Banten), dan KH. Hamid (Ps. Minggu). Jumlahnya bisa 100 rakaat atau lebih. Dari pengalaman pribadi guru kita, Ust. H. Abu Bakar, seringkali berganti kaos hingga tiga kali karena banyaknya keringat yang keluar dari tubuh, jika shalat malam.
Tulang Bisa Kuat
Ketika masih sehat, hidup kita masih ditopang oleh tulang, bagaimana nanti jika tulang keropos siapa yang menopang. Niscaya akan bongkok, lemah lunglai, bagaimana penanggulangannya yaitu dengan cara memperbanyak shalat. Apa saja shalatnya bebas. Thariqah memiliki dzikir tertentu tapi syariah mengajarkan agar memperbanyak shalat. Inni merupakan aplikasi dari mengikuti thariqah. Karena itu mengikuti thariqah adalah dengan cara memperbanyak praktik daripada dzikir. Sperti shalat misalnya.
Kedua : Dimensi Mental
Mental sesorang terbentuk oleh pendidikan formal, begitu sudah selesai sekolah, mentang-mentang tidak ada ujian, tidak pernah baca, tidak pernah dengar, akhirnya merasa benar sendiri. Karena itu mental seperti ini perlu dirubah yaitu dengan cara sering mendengar, membaca, bertanya. Inilah cara mengasahnya.
Jadi jangan banyak waktu dipergunakan untuk melamun apalagi menghayal, melainkan pergunakan mental kita agar lebih tajam sehingga jiwapun ikut tajam, hatipun ikut tajam. Jika sudah tajam maka dimensi mental selalu-siap-setiap-saat. Jika dimensi mental ini dimiliki dan dipergunakan maka akan terasa kesegaran hidupnya, buktikan! Bukan saja ilmunya bertambah, amalnya pun ikut bertambah dan yang menarik banyak hal-hal baru didapat. Karena itu dimensi mental ini perlu diasah. Jangan sampai dimensi mental ini berhenti meskipun tidak ada ujian.. Sebagaimana ungkapan hikmah berikut:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّحْدِ
Artinya: ”Tuntutlah ilmu semenjak buaian hingga ke liang lahat.”
Karena menunut ilmu tidak boleh berhenti hingga ke kubur, Rasulullah saw mewajibkan setiap muslim. Ini adalah dimensi mental yang mesti dilaksanakan oleh setiap mulsim. Jadi jika hidupnya lebih bermakna maka asahlah dimensi mental melalui belajar!
Ketiga: Dimensi Spiritual
Dimensi ini paling penting. Karena nilai manusia, fokus manusia, dan nilai hidupnya adanya di dalam spiritual; Makna spiritual ini bisa diperoleh manakala kita bisa merasakan bagaimana shalat yang nikmat; bagaimana dzikir yang nikmat. Justeru itu akan terbentuk jika kita pandai mengasahnya. Setiap manusia berpotensi untuk menjalankannya, dan hasilnya pun berbeda-beda biasanya disebut dengan pengalaman spiritual.
Dalam kitab Al Hikam diceritakan ada orang yang merasakan nikmatnya shalat setelah mengerjakan selama 20 tahun, ada yang membaca Al Qur’an merasakan nikmatnya setelah mendawamkan selama 15 tahun. Jadi, dimensi spiritual ini akan tercipta dengan sendirinya manakala beristiqamah dan bersabar.
Keempat: Dimensi Sosial Emosi
Manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat mestinya mengerti dan menyadari hidup. Silahkan ikut arus tapi harus mampu dan ikut berenang. Sebab zaman sekarang tidak kuat melawan arus; Sama persis dengan arus gelombang laut yang tidak menentu: kadang besar, kadang kencang bahkan menjadi tsunami. Agar jangan sampai menjadi korban arus laut, segera menepi dengan cara berenang. Celakalah mereka yang tidak bisa berenang. Cara berenangnya menggunakan Baju Taat seperti nasehat Luqmanul Hakim pada puteranya:
المــــلح الطــــــا عات
Artinya: Baju renangnya adalah taat!
Arus deras kini sudah masuk ke ruangan kita dan telah menjadi kebiasaan keseharian. Ahirnya tidak heran, ketika anak dilarang nonton TV ia akan lari ke tetangga. Jadi kita mesti berpacu dengan dajjal-dajjal yang masuk ke ruangan kita. Akhirnya kita mesti mengerti bagaimana cara hidup dan harus belajar terus-menerus bagaimana cara berenang.
Wallahu A’lam (MK)
Menjadi Anggota Keluarga Nabi | Nasabi - Sababi
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (QS. Al Kautsar: 3)
Bersyukur atas nikmat agung dengan diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad saw di seantero jagad sebagai rahmat umat di dunia hingga akherat. Pantas saja Allah dan ditaati para malaikat memberi shalawat kepada Beliau. Dengan demikian sebagai umatnya patutlah mengikuti perintah Allah yang diikuti para malaikat untuk memberi shalawat kepada Rasulullah saw.
Di samping bersalawat secara lisan dan hati, yang penting lagi adalah "memfotokopi" sebisa mungkin segala prilaku, ucapan dan perbuatan yang beliau lakukan untuk dilaksanakan dalam tindakan sehari-hari. Sebab hanya dengan "foto kopian" yang telah mendapat "legalisir" Rasulullah saw saja yang akan diakui di hari kiamat dan setempel-setempel lain akan ditolak. Sehingga segala perkara tanpa "stempel" dari beliau apalagi yang tidak mengakui bahkan yang membenci Nabi saw dan ajarannya akan terputus dari keluarga Nabi saw. Sebagaimana Firman Allah swt: "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus."
Orang-orang yang Terputus
Abtar (terputus) menurut ahli bahasa adalah orang laki-laki yang tidak memiliki anak. Siapakah gerangan yang dimaksud dengan orang-orang yang terputus ini. Pengertian terputus menurut Ibnu Katsir yang mengutip pendapat dari para mufassir seperti Ibnu Abbas adalah sebagai berikut:
Orang-orang yang Terputus
Abtar (terputus) menurut ahli bahasa adalah orang laki-laki yang tidak memiliki anak. Siapakah gerangan yang dimaksud dengan orang-orang yang terputus ini. Pengertian terputus menurut Ibnu Katsir yang mengutip pendapat dari para mufassir seperti Ibnu Abbas adalah sebagai berikut:
إنَّ مُبْغَضَكَ يَا مُحَمَّدْ وَمُبْغِضَ جِئْتَ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْحَقِّ وَالْبُرْهَانِ السّّاطِعِ وَالنُّوْرِ الْمُبِيْنِ هُوَ اْلأْبْتَرُ
Artinya: Sesungguhnya orang yang dimaksud Abtar (terputus) adalah mereka yang membeci Nabi Muhammad saw. Mereka membenci segala yang didatangkan oleh Nabi saw: misalnya petunjuk, perkara yang hak, penerangan yang jelas, nur Ilahi, dan cahaya kebenaran.
Orang-orang kafir Quraisy suka sekali mencemooh Rasulullah saw dengan sebutan Muhammad Abtar!. Maksudnya Nabi yang tidak memiliki keturunan laki-laki Sehingga turunlah surat al Ashr. Adapun menurut Muhammad bin Ishaq yang bersumber dari Yazid bin Ruman, ayat ini pertama kali diturunkan berkaitan dengan Al Ash bin Wail ketika mencemooh nabi sebagai Rojulun Abtar! (Lelaki yang terputus).
Orang-orang kafir Quraisy suka sekali mencemooh Rasulullah saw dengan sebutan Muhammad Abtar!. Maksudnya Nabi yang tidak memiliki keturunan laki-laki Sehingga turunlah surat al Ashr. Adapun menurut Muhammad bin Ishaq yang bersumber dari Yazid bin Ruman, ayat ini pertama kali diturunkan berkaitan dengan Al Ash bin Wail ketika mencemooh nabi sebagai Rojulun Abtar! (Lelaki yang terputus).
Menurut Ibnu Abbas dan Ikrimah diturunkannya ayat ini berkaitan dengan ejekan orang kafir quraisy seperti Ka'ab bin Asyraf dan kawan-kawannya. Namun menurut Al Bazzar lain lagi: Ayat ini berkaitan ejekan Abu Lahab kepada Nabi saw karena kematian putera Nabi saw: Qasim di Mekkah dan Ibrahim di Madinah.
Dari penjelasan para mufassir tersebut tampak jelas sekali bahwa orang-orang kafir quraisy ramai-ramai membenci dan mengejek Rasulullah saw dengan sebutan abtar. Karena itu seyogyanya kita sebagai umat Rasulullah saw dalam bersalawat hendaknya mesti diikuti dengan وعلى اله واصحابه اجمعين atau cukup ditambah dengan lafad وعلى آله . Sebab dengan menambahkan lafaz wa'alaa alihi (dan atas keluarga Nabi saw) berarti kita tidak ikut-ikutan menyebut Nabi sebagai Abtar!.
Keluarga Rasulullah saw.
Keluarga Rasulullah saw.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فَاطِمَةُ مُضْغَةٌ مِنِّي يَقْبِضُنِي مَا قَبَضَهَا وَيَبْسُطُنِي مَا بَسَطَهَا وَإِنَّ الْأَنْسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَنْقَطِعُ غَيْرَ نَسَبِي وَسَبَبِي.
Artinya: "Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Apa yang ia miliki adalah berasal dariku, dan anak keturunan yang berasal darinya adalah juga berasal dariku. Sesungguhnya semua keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali keturunanku dan sabab-ku…" (Sunan Imam Ahmad hadits no: 18167)
Faktor Nasab
Pendapat orang quraisy bahwa Nabi saw itu terputus (abtar) karena tidak berketurunan dibantah al qur'an bahwa yang terputus adalah mereka sendiri karena membenci Nabi saw dan ajarannya. Dari hadits tersebut secara tegas Nabi mengungkap bahwa keluarga Rasululullah saw yaitu Siti Fatimah ra satu-satunya darah-daging beliau yang akan beranak-cucu hingga akhir zaman. Inilah keluarga secara Nasabi.
Jadi, nasabi adalah keluarga secara langsung yang beranak-curu seterusnya. Siapakah yang bersambung secara nasab kepada Rasulullah saw? Mereka adalah para dzurriyah (keluarga Nabi saw) yang berasal dari Siti Fathimah ra.
Sebutan untuk mereka para dzurriyah (keluarga Nabi saw) cukup banyak misalnya Ahlul bait, Habib, Sayyid, Syarif/Syarifah, Andi, Sidi dll, untuk masing-masing daerah berbeda-beda yang disebabkan karena faktor represif dari kaum penjajah waktu itu.
Para keluarga Rasulullah saw dari sisi kepemerintahan selalu dijadikan masyarakat kelas II sehingga tidak jarang dari dulu hingga sekarang (sejarah banyak mengulas) bahwa keluarga Nabi saw selalu dikejar-kejar dan tidak jarang dijadikan obyek penyerangan. Padahal dalam catatan sejarah membuktikan bahwa mereka adalah banyak yang menjadi para aulia, para pemimpin agama dan penyiar agama di seantero jagad bumi ini. Untuk Indonesia para wali itu semuanya bersambung kepada Nabi saw. (selengkapnya, lihat buku sejarah wali, susuhunan, Habaib dll di Indonesia, Thariq Shehab, tersedia di TQN Kali Pasir)
Faktor Sabab
Dalam hadits di atas dengan tegas Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya semua keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali keluargaku dan sabab-ku…"
Dalam hadits di atas dengan tegas Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya semua keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali keluargaku dan sabab-ku…"
Menjadi keluarga Nabi saw walaupun bukan asli keturunannya, ternyata bisa! Hadits di atas telah membuktikan hal itu. Maka dengan demikian keluarga Nabi saw, secara umum juga termasuk keluarga beliau dari sisi Sabab.
Segala penyebab yang menjadi kerangka berpikir atau bertindak, baik dalam visi maupun misi yang menjadi landasan hidup dan berpikir, baik pribadi maupun organisasi, lembaga pendidikan Islam sekalipun atau lembaga sosial dan pendidikan lainnya, semuanya terputus di tengah jalan ketika menuju akhirat. Hal ini terjadi karena tidak berdasarkan tuntunan Rasulullah saw. Padahal jika disandarkan dan mengikuti tuntunan dari Rasul saw, niscaya dengan sendirinya telah menjadi anggota keluarga Rasul saw. Karena itu boleh jadi faktor 'sababi' ini ibarat memperoleh 'legalisir' dan 'stempel' yang sah dari Rasulullah saw terhadap segala tindakan.
Karena itu bagaimana upaya mendapatkan 'stempel' dari beliau dalam setiap prilaku kita, dan kepada siapa kita mesti mencari "fotokopian" tersebut agar upaya kita dalam beragama tidak terputus di tengah jalan menuju akhirat dengan selamat. Boleh jadi langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
Pertama: Sumber Dokumen
Untuk memperoleh dokumen asli ini tentunya dipegang oleh orang-orang yang menjadi keluarganya dan orang-orang yang dekat beliau. Para sahabat adalah mereka yang merekam semuanya. Kemudian diikuti oleh para pengikutnya hingga sekarang. Warisan dokumen ini adalah dipegang oleh ulama sebab mereka adalah pewaris ilmu dari Nabi.
Untuk memperoleh dokumen asli ini tentunya dipegang oleh orang-orang yang menjadi keluarganya dan orang-orang yang dekat beliau. Para sahabat adalah mereka yang merekam semuanya. Kemudian diikuti oleh para pengikutnya hingga sekarang. Warisan dokumen ini adalah dipegang oleh ulama sebab mereka adalah pewaris ilmu dari Nabi.
Dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim menyatakan bahwa, Rasulullah saw tidak mewarisi harta benda melainkan ilmu. Artinya boleh jadi, kepada merekalah dokumen asli ini dipegang. Dan seyogyanya kita mencintai, mendekati dan hidup bersama mereka dalam untuk dibina dan dibimbing, agar bisa mengenal Allah dan Rasul-Nya sekaligus mencintainya. Wallahu A'lam (MK)
Berhijrah dengan Kapal Laut
بسم الله الرحمن الرحيم ولقد اتينا لقمان الحكمة ان اشكر لله
"sesungguhnya, Aku karuniakan Luqmanul Hakim dengan hikma-hikmah karena itu bersykurlah kepada Allah."
Dalam sebuah pelajaran tafsir di MTS, Guru yang saya mulyakan, pak Bun Yamin. Waktu itu mewajibkan bagi kami murid MTS harus menghafalnya. Dalam penjelasan Pak Bun, Luqmanul Hakim adalah seorang hamba Allah yang diabadikan dalam Al Qur'an karena hikmahnya yang besar, meskipun bukan nabi, tapi memiliki hikmah yang luar biasa. Ketika di IAIN, saya temukan pula banyak sekali skripsi yang kovernya dijuduli oleh tulisan yang berkaitan dengan hikmah-hikmah pendidikan Luqmanul Hakim. Namun yang lebih menarik lagi tentang Luqmanul Hakim, dalam salah satu kitab ulama salaf, bebicara masalah kapal laut dan upaya menguasainya. Rupanya pesantren memiliki produk kapal laut yang dikemas dari resep Luqmanul Hakim. Apasaja resep menguasai kapal made in pesantren ini?
Sebelum mengenal kapal made in pesantren, kita perkenalkan terlebih dahulu siapa pembuat ide kapal laut gaya pesantren. Siapakah kalau bukan Luqmanul Hakim itu. Ternyata beliau adalah murid dari ribuan nabi. Dijelaskan dalam kitab bahwa Luqmanul Hakim adalah :
تلميذ الأنبياء لانه ورد انه كان تلميذا لألف نبي
Maksudnya boleh jadi, Luqmanul Hakim adalah murid dari ribuan nabi.
Wasiat-wasiatnya banyak diabadikan di dalam alquran juga hadits. Antara lain wasiatnya adalah bagaimana menaiki kapal laut dan menguasainya:
يا بنى الدنيا بحر عميق والإيمان السفينة وملح الطاعة والسخيرة الاخير
Artinya: Wahai anakku dunia ibarat lauatan, iman itu ibarat kapal laut (perahu), melajunya ibarat taat, dan pantainya adalah akhirat.
Ada tiga nasehat dalam ungkapan nasehat Luqmanul Hakim di atas.
Pertama, Addunya bahrun 'amiiqun (dunia itu ibarat laut yang dalam). Ketika dunia digambarkan oleh Luqmanul Hakim sebagai laut yang dalam, maka imaginasi kita bisa menerawang bahwa lautan itu sangat luas, 80% dunia ini dikelilingi air luat. Laut memiliki gelombang pasang yang besar, jika siang hari terik panasnya luar biasa, jika malam hari gelapnya tidak terkira. Isi dalamnya terkandung banyak sekali kakayaan: Emas, perak, minyak, ikan, rumput laut, sarana penghubung antar bangsa, dan masih banyak lagi. Laut yang dalam memliki ciri berbahaya gelombangnya besar, jika ditelan di dalamnya, sulit untuk keluar. Singkatnya, hidup di dunia bagaikan lautan. Lautan itu luas, gelombangnya besar anginnya cukup kencang. Ketika kita berada di tengah lautan, suka atau tidak suka, pasti di terjang gelombang dan angin.
Kedua, wal-iimaanu assafinatu. Iman laksana kapal. Buat apa laut dengan begitu besar bahaya mengancamnya pun sangat besar. Bersyukur Allah subhanahu wata'ala dengan maha Kasih, disediakan kapal laut sehingga ia bisa naik di dalamnya dan mampu menghindari manusia dari ganasnya gelombang laut. Siapakh penumpang laut dalam tamsil ini. Tentu orang yang mendapat petunjuk. Mereka bisa menaiki kapal. Tapi mereka yang tidak mendapat taufik dan hidayah Allah mereka tidak akan pernah naik perahu/kapal. Maka sudah pasti ia akan terapung-apung di lautan yang dalam gelap dan gulita, tidak menentu dan tidak punya arah. Hanya ada resah dan gelisah. Kapal/perahu digambarkan oleh Luqmanul Hakim sebagai iman. Orang yang beriman artinya, ia memiliki kapal sehingga tidak selamanya, terapung di lautan yang penuh bahaya.
Ketiga, wal milahu atto'atu. Melajunya adalah Taat. Buat apa ada kapal/perahu jika ia tidak bisa bergerak atau melaju. Karenanya, kapal bisa bergerak karena ada taat. Semakin taat, berarti gerakan kapalnya semakin kencang. Semakin lambat berarti sebaliknya. Gerakan kapal menggunakan energi solar atau sejenisnya. Maka taat dalam tamsil Luqmanul Hakim adalah alat untuk menggerakkan Iman. Boleh jadi, orang yang beriman tidak akan ada artinya jika tidak taat. Iblis adalah makhluq yang sanget mempercayai Allah sebagai Tuhan-nya, namun karena tidak taat satu kali perintah ketika disuruh mengormati Adam as ia tidak menurut dengan ucapan: "ana khoirum minu", saya lebih baik daripadanya. Karena kesombongannya kemudian ia menjadi makhluq yang tidak bisa melaju.
Bila energi taat itu tersedia, maka perahunya bisa bergerak dan melaju. Tentu saja, melajunya perahu karena di tengah-tengah lautan ia akan menghadapi badai angin, badai gelombang. Kalau terjadi gelobamgn laut yang besar, maka system keseimbangan kapal mesti harus tersedia. Karamnya kapal KM Nusantara, menurut pakar perkapalan dari ITS disebabkan system keseimbangan kapalnya tidak berfungsi sehingga tidak bisa menormalisasi keadaan. Dalam tamsil Luqmanul Hakim pun hukum keseimbangan pasti ada. Karena bergeraknya kapal, sesuai hukum fisika, berbanding lurus dengan daya hambatan yang dilaluinya, efeknya adalah ia akan terombang ambing jika ada gelombang dan seluruh isi dalam kapal akan mengikuti naik-turunnya kapal yang mengalami goncangan. Gambaran ini persis sama dengan kondisi iman yang ada dalam diri kita, kadang ia naik dan kadang turun karena pengaruh gelombang yang ada dalam siklus keduniaan. Al Imanu yaziidu wamanqus.
Kapal Perlu Penyeimbang
Bagaimana jika keseimbangan itu tidak ada, niscaya kapal yang tengah diterpa gelombang akan tenggelam. Orang yang ada di dalam kapal yang tengah melaju cepat kapalnya pasti begerak dan penumpang yang ada di dalamnya akan mencari pegangan jika terjadi goyangan. Jika ia temukan kursi, maka jadilah kursi sebagai pegangan, Jika Seandainya yang terdekat itu orang, maka main sambar saja orang yang dekat itu tersebut sebagai pegangan demi untuk keselamatan kita agar jangan sampai tersungkur.
Demikian pula dalam gambaran iman kita sehari-hari, apa saja yang terdekat, itulah yang akan menjadi pegangan kita. Sebab jika iman semakin taat, maka semakin gencar riak gelombangnya. Karena itulah berpegangan merupakan sebuah tuntutan dan yang dijadikan pegangan tergantung keseharian kita: jika kita berpegang kepada laa ilaaha illallaah, tentu terjadi apapun itulah pegangan kita, jika kita sehari-hari berpegangan dengan shalat, maka shalatlah sebagai pegangannya. Seandainya kita berpegangan kepada ulama maka kitapun akan berpegangan dengan mereka. Tidak salah jika Nabi saw bersabda:
Pertama, Addunya bahrun 'amiiqun (dunia itu ibarat laut yang dalam). Ketika dunia digambarkan oleh Luqmanul Hakim sebagai laut yang dalam, maka imaginasi kita bisa menerawang bahwa lautan itu sangat luas, 80% dunia ini dikelilingi air luat. Laut memiliki gelombang pasang yang besar, jika siang hari terik panasnya luar biasa, jika malam hari gelapnya tidak terkira. Isi dalamnya terkandung banyak sekali kakayaan: Emas, perak, minyak, ikan, rumput laut, sarana penghubung antar bangsa, dan masih banyak lagi. Laut yang dalam memliki ciri berbahaya gelombangnya besar, jika ditelan di dalamnya, sulit untuk keluar. Singkatnya, hidup di dunia bagaikan lautan. Lautan itu luas, gelombangnya besar anginnya cukup kencang. Ketika kita berada di tengah lautan, suka atau tidak suka, pasti di terjang gelombang dan angin.
Kedua, wal-iimaanu assafinatu. Iman laksana kapal. Buat apa laut dengan begitu besar bahaya mengancamnya pun sangat besar. Bersyukur Allah subhanahu wata'ala dengan maha Kasih, disediakan kapal laut sehingga ia bisa naik di dalamnya dan mampu menghindari manusia dari ganasnya gelombang laut. Siapakh penumpang laut dalam tamsil ini. Tentu orang yang mendapat petunjuk. Mereka bisa menaiki kapal. Tapi mereka yang tidak mendapat taufik dan hidayah Allah mereka tidak akan pernah naik perahu/kapal. Maka sudah pasti ia akan terapung-apung di lautan yang dalam gelap dan gulita, tidak menentu dan tidak punya arah. Hanya ada resah dan gelisah. Kapal/perahu digambarkan oleh Luqmanul Hakim sebagai iman. Orang yang beriman artinya, ia memiliki kapal sehingga tidak selamanya, terapung di lautan yang penuh bahaya.
Ketiga, wal milahu atto'atu. Melajunya adalah Taat. Buat apa ada kapal/perahu jika ia tidak bisa bergerak atau melaju. Karenanya, kapal bisa bergerak karena ada taat. Semakin taat, berarti gerakan kapalnya semakin kencang. Semakin lambat berarti sebaliknya. Gerakan kapal menggunakan energi solar atau sejenisnya. Maka taat dalam tamsil Luqmanul Hakim adalah alat untuk menggerakkan Iman. Boleh jadi, orang yang beriman tidak akan ada artinya jika tidak taat. Iblis adalah makhluq yang sanget mempercayai Allah sebagai Tuhan-nya, namun karena tidak taat satu kali perintah ketika disuruh mengormati Adam as ia tidak menurut dengan ucapan: "ana khoirum minu", saya lebih baik daripadanya. Karena kesombongannya kemudian ia menjadi makhluq yang tidak bisa melaju.
Bila energi taat itu tersedia, maka perahunya bisa bergerak dan melaju. Tentu saja, melajunya perahu karena di tengah-tengah lautan ia akan menghadapi badai angin, badai gelombang. Kalau terjadi gelobamgn laut yang besar, maka system keseimbangan kapal mesti harus tersedia. Karamnya kapal KM Nusantara, menurut pakar perkapalan dari ITS disebabkan system keseimbangan kapalnya tidak berfungsi sehingga tidak bisa menormalisasi keadaan. Dalam tamsil Luqmanul Hakim pun hukum keseimbangan pasti ada. Karena bergeraknya kapal, sesuai hukum fisika, berbanding lurus dengan daya hambatan yang dilaluinya, efeknya adalah ia akan terombang ambing jika ada gelombang dan seluruh isi dalam kapal akan mengikuti naik-turunnya kapal yang mengalami goncangan. Gambaran ini persis sama dengan kondisi iman yang ada dalam diri kita, kadang ia naik dan kadang turun karena pengaruh gelombang yang ada dalam siklus keduniaan. Al Imanu yaziidu wamanqus.
Kapal Perlu Penyeimbang
Bagaimana jika keseimbangan itu tidak ada, niscaya kapal yang tengah diterpa gelombang akan tenggelam. Orang yang ada di dalam kapal yang tengah melaju cepat kapalnya pasti begerak dan penumpang yang ada di dalamnya akan mencari pegangan jika terjadi goyangan. Jika ia temukan kursi, maka jadilah kursi sebagai pegangan, Jika Seandainya yang terdekat itu orang, maka main sambar saja orang yang dekat itu tersebut sebagai pegangan demi untuk keselamatan kita agar jangan sampai tersungkur.
Demikian pula dalam gambaran iman kita sehari-hari, apa saja yang terdekat, itulah yang akan menjadi pegangan kita. Sebab jika iman semakin taat, maka semakin gencar riak gelombangnya. Karena itulah berpegangan merupakan sebuah tuntutan dan yang dijadikan pegangan tergantung keseharian kita: jika kita berpegang kepada laa ilaaha illallaah, tentu terjadi apapun itulah pegangan kita, jika kita sehari-hari berpegangan dengan shalat, maka shalatlah sebagai pegangannya. Seandainya kita berpegangan kepada ulama maka kitapun akan berpegangan dengan mereka. Tidak salah jika Nabi saw bersabda:
العلماء هم ورثة الأنبياء لم يرثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم
Artinya: Ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham melainkan ilmu.
Mengaapa kita mesti mengikuti ulama. Jawabnya akrena ayat-ayat Al quran tidak dimengerti artinya demikian juga hadits. Karena yang mengerti adalah ulama maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti perintah rasul, dekatilah ulama!
Mengaapa kita mesti mengikuti ulama. Jawabnya akrena ayat-ayat Al quran tidak dimengerti artinya demikian juga hadits. Karena yang mengerti adalah ulama maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti perintah rasul, dekatilah ulama!
من استخف بالعــلماء خسر الدين
”Barang siapa yang menganggap enteng para ulama. Maka rugilah agamanya.”
Ulama dengan berbagai derivasinya, ada yang berpendapat bukan saja ahli dalam bidang keagamaan. Mereka juga adalah yang bisa memahami alam dengan berbagai hukum-hukumnya dan ahli dalam bidang keagamaan. Orang yang ahli ekonomi, kemudian ia sendiri begitu takut dan taat kepada Allah, dan ia prihatin untuk memperhatikan dunia sekelilingnya, misalnya, karena banyak umat Islam yang terpuruk ekonominya, maka tergeraklah dengan ilmunya dan nilai ketaatannya, membuat analisa, membuat hipotesa, melaksanakan penelitian, dan melahirkan teori, lalau mempraktekkan teori itu untuk membuat solusi kemiskinan. Ia adalah ulama! Contohnya adalah Dr. Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun ini, seorang ulama Islam ekonom dari Bangladesh dengan Grameen Banknya, seperti yang diberitakan dalam situs ini oleh M. Noor, Ketua NU cabang London. M. Yunus katanya, berhasil mengangkat derajat kaum miskin menjadi naik stratifikasi sosialnya. Sehingga pengemis di Bangladesh sudah ribuan yang diselamatkan dari tangan ulama ekonom ini.
Keempat, assakhirotu ath-Tho'atu. Pelabuhannya (pantainya) adalah akhirat. Perjalaan perahu terus bergerak menuju pantai akherat. Itulah akhir perjalanan manusia. Setelah diantar melintasi gelombang dunia, dan tenaga taat menggerakkan kapal maka akhir perjalanan kapal ini mengantar manusia ke akherat. Itulah tujuan hijrah akhir dari manusia. Dengan kapal produk Luqmanul Hakim Insya Allah dapat selamat hingga akhirat, namun jika produk kapal itu dari "ITS" (insan tak sembahyang) pasti meragukan pruduk-produknya. Karena itulah gunakan produk pesantren karena Insya Allah pembuatnya, banyak kyainya, lulusan "ITB" (insan taat beragama).
Akhirat itu Jauh
Dalam berhijrah, jarak antara dunia menuju akhirat sangat jaraknya. Demikian pula perjalanan sejarah manusiapun masih cukup panjang. Sebelum kiamat datang, sejarah tetap akan mencatat perjalanan manusia. Karenanya, sejarah manusia itu sangat antik dan aneh. Sebelum lahir sudah mempunyai sejarah, setelah lahir di dunia memliiki sejarah di alam kuburpun masih mempunyai sejarah. Karena itulah perjalanan yang jauh ini membutuhkan bekal. Kapal yang tengah melaju pasti membutuhkan perawatan dan dan renovasi jangan terus menerus digunakan.
Dalam berhijrah, jarak antara dunia menuju akhirat sangat jaraknya. Demikian pula perjalanan sejarah manusiapun masih cukup panjang. Sebelum kiamat datang, sejarah tetap akan mencatat perjalanan manusia. Karenanya, sejarah manusia itu sangat antik dan aneh. Sebelum lahir sudah mempunyai sejarah, setelah lahir di dunia memliiki sejarah di alam kuburpun masih mempunyai sejarah. Karena itulah perjalanan yang jauh ini membutuhkan bekal. Kapal yang tengah melaju pasti membutuhkan perawatan dan dan renovasi jangan terus menerus digunakan.
Maka, Rasululalh saw memberikan resep bekal yang sangat ampuh bagi perjalanan hijrah manusia. Misalnya saat Rasulullah saw bersabda kepada Abi Dzar: "Wahai Abi dzar perbaharuilah perahu karena sesungguhnya lautan itu sangat jauh", (Jaddidissafiinah, fainnal bahra amiq) artinya menuju akherat itu sangat jauh. Boleh jadi salah satu hikmah pesan Rasul adalah, perbaharui niat kita, karena segala ucapan harus karena Allah. Berpikir dan bertindak akan mempunyai ukuran niat kita tadi. Sebab, jangan sampai merugi tidak berpahala dalam setiap tindakan dan ucapan.
Pesan berikutnya kepada Abi Dzar: "Ambillah bakal yang cukup karena sesungguhnya perjalanan itu cukup jauh. Bekal terbaik seperti firman Allah swt:
وتزودوا فإن خيرالزاد التقوى. واتقون يآأولى الألباب
Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal. (Al Baqarah: 197)
Jika tidak memiliki bekal nisacaya akan menyesal nanti. Sebagaimana dalam sebuah syair arab dari Al A’masy dalam kitab Tafsir Al Qurthubi.. (bahar kamil seperti lagu Ala laa tanalull 'ilm):
إذا أنت لم ترحل بزاد من التقى * ولاقيت بعد الموت من قد تزودا
ندمت علــى ألا تكـــون كـمثله * وأنك لم ترصد كما كان أرصدا
Jika tidak memiliki bekal nisacaya akan menyesal nanti. Sebagaimana dalam sebuah syair arab dari Al A’masy dalam kitab Tafsir Al Qurthubi.. (bahar kamil seperti lagu Ala laa tanalull 'ilm):
إذا أنت لم ترحل بزاد من التقى * ولاقيت بعد الموت من قد تزودا
ندمت علــى ألا تكـــون كـمثله * وأنك لم ترصد كما كان أرصدا
"Jika anda melakukan perjalanan tanpa bekal takwa, niscaya setelah mati ketika bertemu dengan orang yang betul-betul penuh dengan muatan bekal, perasaanmu sungguh menyesal karena engkau tidak seperti dia. Sayangkan sekali engkau tidak menempuh jalan serperti dia.” (catatan: mohon diperbaiki arti kalimat. Terjemahan ini bebas, karenanya jangan dikutip mentah. pen)
Iman terus bergerak menuju pantai. Untuk pergi ke pantai jangan sampai terapung-apung tidak menentu. Lautan digambarkan tadi oleh Luqman hakim sebagai dunia. Dunia ini termasuk ciptaan Allah yang selalu berputar ada duka ada suka; Ada cukup rizki dan ada yang kekurangan; ada sehat ada sakit; Ada senang ada sengsara itulah dunia. Semuanya merupakan alat untuk mengetes iman kita. Jika kita tangguh dengan keimanan, maka tidak akan tergoyahkan dengan cobaan-cobaan di dunia ini bagaimanapun dahsyatnya.
Itulah resep perjalanan hijrah menggunakan kapal ala pesantren yang diciptakan oleh Luqmanul Hakim semoga hijrah tahun ini membawa kebaikan bagi semua. Dari pesantren yang kita cinta, dari kyai, santri dan para alumni, untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Amin. Wallahu a'lam (MK)
23 January 2007
Moment Hijrah | Belajar pada Gergaji Tumpul
Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1428 H
بسم الله الرحمن الرحيم فاعتبروا يااولى الأبصار ... واتقونى يا اولى الألباب
Beri’tibarlah Wahai ulil absar… dan takutlah kepada-Ku wahai ulil albab
Untuk memahami ayat di atas tidak salah jika diilustrasikan pada gambaran peristiwa di bawah ini kemudian penulis mencoba mengekplorasi bagaiamana sebuah gergaji tumpul layak sebagai media refleksi. Hijrah sebagai suatu semangat menuju proses menjadi, maka sinergis untuk itu memerlukan pemicu. Salah satu stimulus yang bisa dijadikan pemantik sinergi adalah gergaji tumpul.
Suatu ketika kyai Rahim jalan-jalan di kampung sekelilingnya, karena ada keperluan mencari tukang batu untuk memperbaiki pekarangan rumahnya yang akan diperlebar. Untuk arena bermain para santri-santrinya. Maklum santrinya makin banyak saja dan perlu halaman luas untuk arena bermain, biar jangan jenuh ketika mereka menghafal alfiah di kamar bilik. Maka halaman belakang asrama akan disulap menjadi taman bermain santri agar mereka bisa konsentrasi dan tenang dalam belajar.
Sebelum sampai di rumah tukang yang dituju, ia dapati dua orang tengah menggergaji kayu gelondongan dengan cara manual. Tapi dalam pikiran pak Kyai ada yang tidak beres, kenapa gergaji itu dipakai terus padahal kelihatannya tumpul. Buktinya, beliau lewat dari 2 jam yang lalu kayunya masih itu-itu saja. Mengapa tidak diasah dan turun dulu kemudian dipakai lagi. Paling juga 1 jam bisa kelar dengan perkiraan kayu sebesar itu dengan tenaga dua orang. Begitulah pikiran yang berkecamuk dari seorang kyai yang amat memperhatikan dunia sekelilingnya. Seperti biasa kyai yang terkenal gaul ini mendekati dan mengajak mengobrol kepada tukang gergaji di kampung sebelah yang banyak orang menganggap banyak orang yang mblubudnya (masa bodoh terhadap ajaran agama). "Mang kenapa sih gergajinya, kok lama betul memotongnya, ketul (tumpul) ya." "inggih pak kyai" dengan sopan ia menjawab.
"Kalau perkiraan saya, biasanya, kayu sebesar itu paling 1 jam kelar. Kok ini sampai 3 jam belum berhasil." Tanya kyai sambil mengisap sigaret kesukaanya."
"Inggih Pak Kyai, Gergaji ini masih baru, saya pikir karena baru, jadi masih bagus belum ketul." Sanggah tukang kayu.
"Menurut saya gergaji itu ketul, istirahatlah dulu dan gunakan waktu istirahat untuk mengasah gergajimu. Paling sebentar istirahatnya, tapi gergaji itu bisa tajam kembali dan bisa bermanfaat untuk memotong kayu lain jika pekerjaanmu sudah selesai". Nasehat Kyai Ahmad dan ia buru-buru ke asramanya, karena banyak santri yang akan diajarkannya. Para tukang sambil bengong namun mengerti maksud Pak kyai agar gergaji itu diasah dulu sebentar lalu dipakai lagi.
Fragmen di atas bukan cerita sebenarnya, namun sekedar memberikan gambaran makna terdalam dari nasehat seorang kyai gaul kepada tukang kayu, tetangga desa sebelahnya.
Saatnya Mengasah Gergaji
Memasuki tahun baru hijriyah bagi sebagian masyarakat dianggap biasa saja. Tidak ada yang berubah hanya sedikit perbedaanya, salah satunya, katanya, ganti kalender. Sementara kehidupan dianggap makin tidak kondusif saja. Persoalan hidup terkesan makin rumit karena terhimpit masalah sakit. Masalah yang non sakit beredar di kalangan sedikit. Akhirnya hutang makin melilit karena bayar mesti kredit, yang punya hutang tidak sedikit, banyak yang kemudian pelit karena duitnya diindit jika ketahuan ia pun lari terbirit-birit.
Nada pesimistis di atas seringkali terlontar dalam berbagai tulisan atau ucapan seseorang dalam setiap kesempatan baik di situs maupun di berbagai media. Rasanya, jika semua orang berkata seperti itu, akan meniscayakan pesimisme bukan optimisme. Di dalam majalah swa menulis: “orang pesimis bagian dari persoalan sementara orang optimis bagian dari jawaban.” Kalimat ini penulis temukan tergantung jelas di sbuah pigura manis, di salah satu sudut rumah seorang alumni Buntet, Ust. H. Diauddin, di Jakarta Timur.
Proses menuju optimis mesti membutuhkan suatu energi yang dahsyat yang bisa merubahnya. Salah satu energi itu adalah energi jiwa yang dibangun dan diasah bagaikan gergaji. Gergaji pisik yang digambarkan pada fragmen di atas, hampir mirip dengan kemampuan gergaji jiwa yang kita miliki. Sebab tidak beda antara gergaji tajam dengan jiwa yang tajam akan mampu mengatasi masalah “kayu-kayu gelondongan” yang berserakan di sekitar kita. Kayu gelondongan itu bisa saja masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah hubungan sosial. Semuanya itu mesti harus dihadapi dengan ketajaman hati, sehingga hasilnya akan bermanfaat sebagaimana kayu gelondongan yang sudah digergaji, hasilnya bisa menjadi papan dan kaso. Tentu bermanfaat untuk jendela, pintu dan lain-lain.
Agar jiwa memiliki ketajaman layaknya gergaji yang tajam, sehingga bisa diandalkun untuk menghadapi masalah problem yang berserakan dimana-mana, maka orang yang rajin mengasah gergaji jiwa tentu tidak susah menghadapi masalah itu. Sebab tidak dipungkiri ketajaman sebuah gergaji akan pula mampu memotong persoalan-persoalan kayu dan memotong sesuai dengan nilai manfaatnya.
Karenanya, mengasah gergaji yang membutuhkan waktu sebentar, seperti tukang gergaji di atas, maka nilai waktu bagi tukang itu sangat berharga. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk berpusing-pusing memikirkan ketulnya gergaji, melainkan bagaimana mengatasinya. Sebab menurut orang bijak, jika berkutat dengan urusan keduniaan yang lawan kata dari ubudyah, niscaya akan berputar-putar sebagaimana luasnya bumi berputar hanya membutuhkan waktu 24 jam, namun sepertinya jalan di tempat. Karena urusan dunia itu sifatnya jalan di tempat tidak kemana-mana. Dengan demikian maka bagaimana upaya mengasah gergaji jiwa, setidaknya ada 4 dimensi agar gergaji itu bisa tajam dan berdaya guna efektif:
Pertama: Dimensi Pisik
Gerinda apa yang diperlukan untuk mengasah jiwa ini? Jawaban para ulama ahli ibadah mendefiniskan shalat bukan saja sebagai hubungan dengan Tuhannya, melainkan ia memiliki nilai pengasah dimensi pisik. Karena itu seringkali ditemukan di banyak kitab-kitab salaf, bahwa ulama-ulamanya melaksanakan shalat dengan jumlah yang tidak sedikit. Salah satu manfaatnya, menurut mereka adalah bahwa otot-otot, sendi dan urat-urat syaraf yang ada di dalam tubuh memerlukan kekuatan dan sementera secara pisik mereka membutuhkan tasbih. Karenanya tidak jarang orang-orang yang suka memperhatikan masalah ini sangat menyesal jika menggalkan shalat tasbih setiap hari. Dikatakan dalam sebuah nasehat agama, bahwa dalam tubuh manusia sendi-sendi yang jumlahnya lebih dari 200 dan membutuhkan tasbih.
Seorang wartawan bertanya kepada Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan). “Bib apa olahraga yang Anda sukai?”
“Saya biasa mengerjakan shalat tanpa hitungan rakaat”.
Jelas shalat yang dimaksud adalah shalat mutlak yang jumlahnya tidak dibatasi. Karenanya, kebiasaan mengeluarkan keringat ketika shalat rupanya menjadi langganan para kyai yang 'aalim lagi 'aliim. Mereka biasanya menberi nasehat: “Laksanakan saja shalat dimanapun, di kamar, di masjid, di mushola. Kebiasaan ini merupakan pendobrak dimensi psikis."
Tidak salah jika ada ungkapan bijak : men sana incorpore sano, atau dalam bahasa arabnya:
العقــل السـليم فى جسم الســليم
Artinya: “Akal yang saliim terdapat di dalam jiwa yang saliim.”
Saliim biasanya diartikan sehat. Jadi jiwa sehat lahirnya dari tubuh yang sehat. Sepertinya, jika sehat diciptakan dari shalat tentu lebih baik dari gerakan olahraga lainnya. Karena itu tidak salah, jika lari-lari pagi atau sore diganti dengan shalat. Orang-orang aliim yang penulis kenal sudah mempraktekkan teori ini misalnya: Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan), Buya Dimyati Banten (alm), KH. Mufassir (Banten), dan KH. Hamid (Ps. Minggu) dan masih banyak lagi yang tidak saya kenal. Mereka melaksanakan shalat jumlahnya mencapai 100 rakaat atau lebih sekali mengerjakan.
Tulang Bisa Kuat
Shalat bisa menjadi batu asahan jiwa dan tulang bisa kuat. Ketika masih sehat, hidup kita masih ditopang oleh tulang, bagaimana nanti jika tulang keropos siapa yang menopang. Niscaya akan bongkok, lemah lunglai, bagaimana penanggulangannya yaitu dengan cara mengikuti mereka yang telah mempraktekkan bagaimana memperbanyak shalat. Apa saja shalatnya bebas. Bagi para pengikut thariqah, pasti memiliki dzikir tertentu tapi syariah mengajarkan agar memperbanyak shalat. Mengerjakan shalat (syari’ah) merupakan aplikasi dari mengikuti thariqah. Karena itu mengikuti thariqah adalah dengan cara memperbanyak praktik daripada dzikir. Sperti shalat misalnya.
Kedua : Dimensi Mental
Dimensi kedua yang mesti diasah adalah dimensi mental. Dimensi ini bagi seorang manusia terbentuk oleh pendidikan formal, begitu sudah selesai sekolah, mentang-mentang tidak ada ujian, tidak pernah baca, tidak pernah dengar, akhirnya merasa benar sendiri. Karena itu mental seperti ini perlu dirubah yaitu dengan cara sering mendengar, membaca, bertanya. Inilah cara mengasahnya.
Jadi jangan banyak waktu dipergunakan untuk melamun apalagi menghayal, melainkan pergunakan mental kita agar lebih tajam sehingga jiwapun ikut tajam, hatipun ikut tajam. Jika sudah tajam maka dimensi mental selalu-siap-setiap-saat. Jika dimensi mental ini dimiliki dan dipergunakan maka akan terasa kesegaran hidupnya, buktikan! Bukan saja ilmunya bertambah, amalnya pun ikut bertambah dan yang menarik banyak hal-hal baru didapat. Karena itu dimensi mental ini perlu diasah. Jangan sampai dimensi mental ini berhenti meskipun tidak ada ujian.. Sebagaimana ungkapan hikmah berikut:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّحْدِ
Artinya: ”Tuntutlah ilmu semenjak buaian hingga ke liang lahat.”
Karena menunut ilmu tidak boleh berhenti hingga ke kubur, Rasulullah saw mewajibkan setiap muslim. Ini adalah dimensi mental yang mesti dilaksanakan oleh setiap mulsim. Jadi jika hidupnya lebih bermakna maka mengasah dimensi mental adalah melalui belajar.
Ketiga: Dimensi Spiritual
Dimensi ini paling penting. Karena nilai manusia, fokus manusia, dan nilai hidupnya adanya di dalam spiritual; Makna spiritual ini bisa diperoleh manakala kita bisa merasakan bagaimana shalat yang nikmat; bagaimana dzikir yang nikmat. Justeru itu akan terbentuk jika kita pandai mengasahnya. Setiap manusia berpotensi untuk menjalankannya, dan hasilnya pun berbeda-beda biasanya disebut dengan pengalaman spiritual.
Dalam kitab Al Hikam diceritakan ada orang yang merasakan nikmatnya shalat setelah mengerjakan selama 20 tahun, ada yang membaca Al Qur’an merasakan nikmatnya setelah mendawamkan selama 15 tahun. Jadi, dimensi spiritual ini akan tercipta dengan sendirinya manakala beristiqamah dan bersabar.
Keempat: Dimensi Sosial Emosi
Manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat mestinya mengerti dan menyadari hidup. Silahkan ikut arus tapi harus mampu dan ikut berenang. Sebab zaman sekarang tidak kuat melawan arus; Sama persis dengan arus gelombang laut yang tidak menentu: kadang besar, kadang kencang bahkan menjadi tsunami. Agar jangan sampai menjadi korban arus laut, segera menepi dengan cara berenang. Celakalah mereka yang tidak bisa berenang. Cara berenangnya menggunakan Baju Taat seperti nasehat Luqmanul Hakim pada puteranya: المــــلح الطــــــا عات
Artinya: Baju renangnya adalah taat!
Arus deras informasi dari belahan dunia manapun kini sudah masuk ke ruangan kita dan telah menjadi kebiasaan keseharian. Ahirnya tidak heran, ketika anak dilarang nonton TV ia akan lari ke rumah tetangganya. Jadi rupanya mesti berpacu dengan simbol “dajjal-dajjal” modern yang masuk ke ruangan kita. Akhirnya mestilah kemudian secara bijak memahami bagaimana cara hidup dan harus belajar terus-menerus bagaimana cara berenang.
Dari urian di atas, keempat dimensi itu merupakan bagian terpenting dalam hidup. Tentu saja masih banyak dimensi lain yang tidak kalah pentingnya. Karena itu proses mengasah semua itu membutuhkan pengorbanan dan kecakapan. semoga dengan ilmu yang ada, dari pesantren yang kita cintai, dengan profesi yang bermacam-macam, maka kiprah dan gairah kita dalam memajukan bangsa Insya Allah akan dimulai dari diri sehingga bisa mengurat akar di sekitar kita. Semoga pula, apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.
Tahun baru, tahun mengasah jiwa, tahun beramal dan tahun refleksi di tengah cobaan yang membelit bangsa yang sudah tidak bisa dipikirkan dengan akal logika. Maka pendekatan non logika mesti dihubungkan. Seorang Ulil ketika mengomentari Tsunamai dia berkata, adakalanya sesuatu kejadian di bumi ini tidak bisa dilogikakan. Maka sikap terbaik adalah bagaimana menghindari kejadian itu menimpa kita. ]
Wallahu A’lam (MK)
Penulis alumni MANU Buntet Pesantren Cirebon
Subscribe to:
Posts (Atom)
